
Proses Pemindahan Ricardo dari Mess PT Gemareksa Mekar Sari Ke Mess Desa Kabupaten Lamandau, Jumat 5 Juni 2020. (Istimewa)
Kotawaringin News, Lamandau – Polemik keluh kesah Ricardo Hutabarat yang disebar di sosial media Facebook, mendapat tanggapan dari manajemen PT Gemareksa Mekar Sari.
Seperti diketahui, warga yang mengaku dari Desa Perigi Raya Kecamatan Bulik Kabupaten Lamandau tersebut mengungkapkan keluh kesah di media sosial facebook, Kamis 4 Juni 2020. Karantina di mess tersebut dilakukan karena dirinya baru melakukan perjalanan luar daerah, tepatnya ke Kalimantan Utara (Kaltara).
Baca juga : Warga Perigi Raya Ini Terlantar di Mess Isolasi Covid-19 PT Gemareksa Mekar Sari
Warga yang ternyata ber-KTP Kota Medan Sumatra Utara tersebut mengungkapkan bahwa kondisinya terlantar saat menjalani karantina di mess isolasi tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Humas PT Gemareksa Mekar Sari, Jenu Purnomo mengatakan, Ricardo Hutabarat adalah suami dari salah satu karyawati di PT Satria Hupa Sarana (SHS) –Satu Group dengan PT Gemareksa Mekar Sari–. 2 hari sebelum tanggal 17 Mei 2020, Ricardo Hutabarat meminta izin untuk mendatangi keluarganya itu yang tinggal di Camp PT SHS. Namun, Gugus Tugas Cekal Covid-19 PT SHS tidak mengizinkannya karena terlalu berisiko. Pasalnya, Ricardo telah melakukan perlananan luar daerah melintasi zona merah Tanjung Selor Kaltara – Banjarmasin Kalsel – Palangka Raya – Sampit Kotim – Lamandau. “Namun karena yang bersangkutan memaksakan diri dengan pertimbangan bersedia diisolasi mandiri di mess desa Kabupaten Lamandau.”
Setibanya di Lamandau, lanjut Jenu, ternyata Ricardo tidak bisa diiisolasi di mess desa dengan beberapa alasan. Karena itu, Gugus Tugas Cekal Covid PT SHS pun berinisiatif mempersiapkan mess untuk isolasi mandiri Ricardo. “Sebenarnya banyak reaksi penolakan dari tetangga penghuni mess sekitarnya (terkait isolasi mandiri Ricardo). Inipun terpaksa hal ini dilakukan karena hanya ini pilihan yang ada di perusahaan.”
Selama menjalani isolasi mandiri, kata dia, Ricarfo telah menjalani 2 kali rapid test dengan hasil non reaktif. Namun, atas dasar pertimbangan petugas dari Dinkes Lamandau, Ricardo pun harus mengikuti swab test. “Ada batuk dan diare jadi disarankan untuk dilakukan swab test dulu. Jika hasilnya negatif baru boleh interaksi dengan keluarganya.”
Selama dikarantina di mess tersebut, Jenu mengaku perusahaan tidak memberikan bantuan apapun selain menyiapkan mess isolasi. “Karena itu kemauan yang bersangkutan siap isolasi mandiri, perusahaan hanya siapkan Mess.”
Dia berharap, Ricardo Hutabarat bisa bersabar mengikuti protokol kesehatan yang telah ditentukan. Hal ini demi mencegah penyebaran covid-19 di Lamandau. “Tadi siang atas arahan Ketua Gustu Pencegahan Covid-19 Kabupaten Lamandau, tadi selepas sholat Jumat 12.15 WIB yang bersangkutan sudah dipindahkan ke Mess Desa. Dia juga akan menjalani swab test pada Jumat 5 Juni 2020.” (BH/K2)










