
Ilustasi golput/Net
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Fenomena golput sudah lama di Kotawaringin Barat (Kobar) Kalteng, umumnya di Indonesia karena warga tidak bisa memberikan suara di Pilkada, Golput kembali ramai diperbincangkan di Pilkada Kalteng 2020.
AP (31) enggan memberikan suaranya pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kalteng 2020 kali ini, padahal di tahun-tahun sebelumnya ia tak pernah absen, Kamis (10/12/2020).
Warga Kelurahan Sidorejo, ini mengaku sebelumnya ia adalah pendukung salah satu Cagub dan cawagub Kalteng. Namun manuver politik yang dilakukan di medsos dalam beberapa bulan terakhir membuatnya beralih ke gerbong golongan putih (golput).
Banyak akun bodong yang saling menyerang dan saling menjatuhkan, terus terang respon saya langsung jatuh, bukanya memberikan program yang jelas tapi justru membuat saya hilang rasa, ia pun beramsusi siapapun yang terpilih tidak akan merubah nasibnya.
Ia mengatakan dirinya -sejatinya -tak peduli siapa pemenang Pilkada kali ini, siapapun pemenangnya dia adalah pilahan yang tepat untuk membawa Kalimantan Tengah lebih maju lagi, ucapnya.
Lain AP, lain SR (44).
SR mengaku ia menjadi golput sejak ditolak menggunakan hak suaranya dengan alasan tidak membawa C6, padahal warga asli Kobar dan KTP juga Kobar, namun karena tidak terdata dan tidak mempunyai C6 tidak bisa menggunakan hak pilihnya.
Ia mengatakan saat dirinya hendak menggunakan hak pilihnya hanya bermodalkan KTP, petugas menolaknya dengan alasan harus ada C6, bisa mencoblos namun harus melalui proses, kan ribet makanya sayapun kembali bekerja lagi, ucapnya.
Mereka terlanjur kecewa pada sistem politik yang carut-marut. Terlebih, ia juga sudah muak menanggapi ajakan untuk memilih kandidat yang kurang buruk.
“Saya merasa rakyat enggak dikasih pilihan yang cukup untuk memilih.”
“Enggak serta merta membuat saya tertarik dengan salah satu paslon (pasangan calon) karena jawabannya enggak ada yang logis buat saya, toh tidak akan bisa merubah kehidupan saya”.
Makanya saya tidak repot-repot amat, ditolak menggunakan hak pilih, kembali pulang dan bekerja lagi, yang penting saya sudah berusaha menjadi warga negara Indonesia yang baik dengan berusaha datang ke TPS, ucapnya.
“Dua-duanya buat saya sama saja.”
Bagi pria berusia 44 tahun ini golput adalah sikap politik yang muncul dari kesadaran kritis dan pemikiran mendalam yang panjang.
“Saya melihat bahwa hari ini tidak menjalankan kewajibannya untuk melindungi dan menjalankan kepentingan rakyat.”
“Kalau kami enggak golput dan diam saja, itu artinya kami enggak sayang sama negara. Artinya kami membiarkan negara berjalan seperti itu dan membiarkan pendapat bahwa Kalteng sedang baik-baik saja,” ungkap pekerja sosial ini”. (yusbob)









