
Ellena Rosie Kepala DP3AP2KB Kotim dan Ajeng Yasmin Putri Meisa saat vicon memperingati Hari Anak Nasional bersama.( Mata Kalteng )
Kotawaringin News, SAMPIT – Proses belajar mengajar dengan menggunakan sistem online dinilai kurang optimal. Pasalnya hal tersebut membuat sebagian anak yang berada di pelosok maupun bagi anak yang orangtuanya kurang mampu sulit untuk melakukan sistem pendidikan tersebut.
Dampaknya, anak tersebut tidak dapat mengikuti pembelajaran yang berujung pada tertinggalnya anak terhadap materi pembelajaran.
Salah seorang siswa di Sampit, Ajeng Yasmin Putri Meisa mengungkapkan, pembelajaran menggunakan sistem online ini lebih banyak menguras biaya kuota internet, selain itu pembelajaran juga terganggu apabila signal atau jaringan internet sedang tidak stabil.
“Seperti yang saya rasakan sekarang penggunaan kuota internet boros sekali,” terangnya saat peringatan hari anak nasional di Sampit, Kamis 23 Juli 2020.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kotawaringin Timur (Kotim), Ellena Rosie mengaku prihatin dengan kondisi saat ini, karena proses belajar mengajar tatap muda dengan sistem online sangat jauh berbeda hasilnya.
“Saya prihatin dengan adanya anak-anak yang bersekolah tanpa tatap muka, ini membuat ketidak pemerataan bagi anak-anak yang berada di plosok maupun bagi orangtua yang kurang mampu,” ujar Ellena Rosie.
Ia meminta kepada dinas terkait untuk memikirkan kembali sistem belajar online yang diterapkan saat ini. Dimana sistem pendidikan tersebut dapat dikecap oleh semua anak tanpa membuat beban bagi orangtua. Sehingga anak dapat mengikuti pembelajaran secara optimal.
“Harus dipikirkan kembali bagaimana pola pendidikan yang lebih konferensif sehingga semua dapat mengecap pendidikan tanpa terkecuali artinya pemerataan pendidikan itu tidak hanya untuk orang kaya tetapi orang miskin juga berhak untuk mengecap pendidikan,” terangnya.
Sumber : Mata Kalteng










