
Sejumlah warga Desa Tamiang saat berfoto bersama sebelum menerima penghasilan dari berkeja mengelola kebun desa. (Bayu Harisma)
Kotawaringin News, Lamandau – Warga Desa Tamiang, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau mengaku optimis jika kesejahterannya akan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Keyakinan itu didukung adanya tanaman kelapa sawit seluas 100 hektare (ha) yang diserahkan salahsatu perusahaan sesuai akta perdamaian putusan Pengadilan Negeri Nanga Bulik nomor 1/Pdt/G/LH/2020/PN Ngb dan surat nomor 0217/PWP-LGL-JKT/VI/2020. Lahan itu sejak dua bulan terakhir dikelola langsung oleh masyarakat desa melalui tim pengelola yang dibentuk oleh Pemerintah Desa Tamiang.
Tanaman kelapa sawit produktif di lahan yang mereka sebut sebagai kebun desa itu laiaknya berkah yang menjadi petensi ekonomi baru masyarakat di sana, terlebih dalam pengelolaannyapun langsung melibatkan masyarakat setempat sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Mulai dari warga yang bekerja di bagian administrasi, perawatan kebun, bagian keamanan kebun, pemuat, mandor dan lain sebagainya.
“Sejak adanya kebun desa yang dikolala sama-sama ini saya jadi punya pendapatan tambahan. Sangat terbantu lah. Saya yang tadinya hanya Ibu Rumah Tangga (IRT) sekarang bisa sambil jadi pemutik berondol dan nyemprot (bagian perawatan kebun),” kata Susilawati (41) saat dibincangi, Sabtu 3 Oktober 2020.
Ibu tiga anak itu juga menyebut, jika sebelumnya ekonomi keluarga hanya ditopang oleh pendapatan suami yang bekerja di salahsatu perusahaan kelapa sawit, kini keluarganya bisa mendapat penghasilan tambahan.
“Saya pribadi sangat bersyukur karena bisa dapat uang tambahan, besaran upahnya kan beda-beda, nyemprot perharinya berapa dan mutik berondol perkilonya berapa, semua ada hitungannya. Bulan lalu total saya dapat upah Rp2,5 juta, lumayan kalau mau keredit motor kan sudah bisa lah,” cetus Susi sambil bercanda.
Hal senada diungkapkan Antonius Derdik dan Moses. Kedua warga Desa Tamiang yang berstatus karyawan di salahsatu perusahaan perkebunan kelapa sawit itu juga kini bisa mendapat penghasilan tambahan karena jika sedang lepas shift kerja di perusahaan, mereka bertugas sebagai petugas keamanan di kebun desa.
Begitupun Yohanes Sevendelau, warga yang yang tadinya hanya sebagai pekerja serabutan, sejak adanya kebun desa yang dikelola langsung oleh masyarakat itu dirinya kini menjadi mandor. “Dulu cari uang sana sini susah, sekarang diberi tanggungjawab dan kepercayaan jadi mandor. Saya bersyukur akhirnya bisa kerja dan dapat uang di kampung sendiri,” katanya.
Sementara, ketua pengelola kebun Desa Tamiang, Edi Manto, mengaku bersyukur atas perhatian dan dukungan semua pihak termasuk pemerintah desa Tamiang, pemkab Lamandau yang dinilainya telah memberi semangat kepada maayarakat desa Tamiang untuk mengelola kebun desa secara mamdiri dan profesional.
Ia dan rekan-rekannya bertekad untuk menjalankan amanah dengan baik, berupaya memajukan desa melalui sumber ekonomi desa yang dikeola secara bersama-sama dan transparan.
“Dua bulan terakhir ini sudah terlihat adanya semangat masyarakat desa Tamiang untuk bergerak meningkatkan kesejahteraannya. Putaran ekonomi di Desa kian hari kian hidup dan terus bergeliat. Saya bersyukur semua masyarakat terus bergotong royong dan kompak,” sebutnya. (H/BH/K2)










