
Desa Pasir Panjang, di Kecamatan Arut Selatan, bisa menjadi potret toleransi. Tiga tempat ibadah, yakni masjid, gereja, dan Balai Hindu Kaharingan berdiri berdampingan.
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Membangun kerukunan umat beragama rupanya bisa digagas oleh beberapa tokoh pemuka agama dan seorang Kepala Desa di Pasir Panjang, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng).
[quads id=2]
Seperti itulah kerukunan umat beragama untuk disatukan, dengan penuh optimisme, tiga tempat ibadah berdampingan dengan damai sebagai cermin toleransi.
Desa Pasir Panjang, di Kecamatan Arut Selatan, mungkin bisa menjadi potret toleransi. Sebab, di desa tersebut, tiga tempat ibadah, yakni masjid, gereja, dan Balai Hindu Kaharingan berdiri berdampingan. Komunikasi yang baik dan sikap saling menghormati membuat seluruh warga desa hidup dalam damai walau berbeda keyakinan.
Pemuka agama, tokoh masyarakat dan kepala desa menjadi penggagas berdirinya tiga tempat ibadah tersebut, nilai toleransi yang diwariskannya membekas hingga saat ini.
Saling menjaga dan berpartisipasi dalam perayaan hari besar menjadi kunci persatuan. Potret toleransi di Desa Pasir Panjang menunjukkan, menjaga kebinekaan bisa dimulai dari diri sendiri, tentunya dengan menanamkan sikap toleran dan menghormati perbedaan.
Desa Pasir Panjang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menjadi simbol keharmonisan kerukunan agama. Pasalnya, ada tiga rumah ibadah yakni Masjid, Gereja dan Balai Hindu Kaharingan yang dibangun bersebelahan.
Bupati Kobar Hj Nurhidayah pernah menyampaikan, Kabupaten Kobar merupakan daerah yang sangat majemuk dengan banyaknya keragaman suku, budaya dan agama. Terlebih khususnya di Desa Pasir Panjang, yang memiliki tiga rumah ibadah yang bersebelah-sebelah.
“Khususnya ini menjadi contoh yang baik untuk pemersatu umat. Seperti kita ketahui di pembangunan Balai Hindu Kaharingan ini, disebelahnya ada bangunan Gereja dan Masjid,” ujar Nurhidayah saat itu.
Hari ini umat Kristiani merayakan Natal, masyarakat saling memberikan ucapan dan saling menghargai, biasanya kalau ga Covid 19 masyarakat disini bertamu dan bersilaturahmi, namun karena pandemi Covid 19 dan tidak diperkenankan berkerumun terpaksa lewat komunikasi handphone, kata Untung Warga desa pasir panjang. (Yusbob)







