oleh

USTP Group Diduga Rambah Hutan, Bupati Lamandau : Kita Bentuk Tim Investigasi

Kotawaringin News, Lamandau – Polemik dugaan perambahan kawasan hutan oleh dua perusahaan perkebunan kelapa sawit dibawah bendera Union Sampoerna Triputra Persada (USTP) Group, membuat Pemkab Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah, turun tangan. Pemerintah kabupaten berjuluk Bumi Bahaum Bakuba ini, segera membentuk tim investigasi untuk menelisik dugaan perambahan hutan tersebut.

Seperti diketahui, kedua perusahaan itu yakni Sumber Mahardhika Graha (SMG) dan Graha Cakra Mulya (GCM). Berdasarkan Peta Lampiran Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : SK. 6025/MENLHK-PKTL/KUH/PLA.2/11/2017, di lokasi kedua perusahaan tersebut tampak terdapat lahan berstatus kawasan hutan. Di lokasi PT GCM, terdapat kawasan hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi tetap (HP) dan hutan produksi yang dapat di konversi (HPK). Sedangkan di lokasi PT SMG, terdapat kawasan hutan produksi tetap (HP) dan hutan produksi yang dapat di konversi (HPK).

Bupati Lamandau, H Hendra Lesmana mengatakan, perambahan hutan bakal membuat citra buruk bagi iklim investasi di Kabupaten Lamandau. USTP Group sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit, haruslah bersih dari tindakan yang menyalahi aturan. Karena itu, Pemkab bakal bentuk tim investigasi. Tim ini bertujuan untuk memastikan di lapangan dugaan perambahan hutan tersebut. “Nanti di cek,” tegasnya, Senin 17 Mei 2021.

Senada, Komandan Brigade Barisan Pertahanan Masyarakat Dayak (Batamad) Kabupaten Lamandau, Dedi Linando Amann, mengatakan, Batamad Lamandau siap mengawal dugaan perambahan hutan tersebut. Pun demikian, siap turun menggelar aksi. Menurutnya, perambahan hutan merupakan persoalan yang krusial. Karena, menjadi cikal bakal terjadinya bencana alam serta konflik lahan. Apalagi, kebanyakan masyarakat dayak berada di desa-desa lingkar USTP Group tersebut. “Kami hadir untuk membela kepentingan negara dan masyarakat. Selayaknya juga, USTP betul-betul memperhatikan kesejaheraan masyarakat di desa-desa lingkar perusahaan. Sudah lama loh mereka beroperasi, tapi kehidupan masyarakat sekitarnya masih banyak yang jauh dari kata sejahtera.”

Sebelumnya, General Manager PT SMG USTP Group, Dwi Nugroho saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu melalui messenger, dia memilih tak menjawab atas persoalan dugaan perambahan kawasan hutan tersebut. Dia tak membuka notifikasi pesan tersebut meskipun terpantau sering online.

Begitu pula, Manajer CDO PT SMG USTP Group, Rahmat Hidayat, memberikan jawaban yang tak nyambung atas pertanyaan dugaan perambahan kawasan hutan tersebut. “Siang oge…Liburan uy, asa masih mayday lin ieu teh… (Siang juga…Liburan, serasa masih mayday ya ini tuh),” balasnya melalui pesan WhatsApp atas pertanyaan dugaan USTP merambah hutan produksi terbatas, sembari membubuhkan emotion senyum dengan mulut yang ditutup tangan, Sabtu 1 Mei 2021.

Selanjutnya, saat dikonfirmasi ulang, Manajer CDO PT SMG USTP Group, Rahmat Hidayat mengatakan tidak mengetahui atas dugaan perambahan hutan tersebut. “Duka atuh nya. Abdi mah sanes manajemen Nu eta, abdi mah dulu teh jurusanna manajemen keuangan da. (Tidak tahu. Saya bukan manajemen yang mengurus soal itu, saya dulu jurusan manajemen keuangan,” tulis dia, bernada bercanda sembari membubuhkan emotion tersenyum, Selasa 11 Mei 2021.

Bahkan, Manager Humas & CSR USTP Group, Alex Gunawan kompak tak memberikan tanggapan. Melalui pesan Whatsapp, Selasa 11 Mei 2021, 14.36 WIB, telah dilakukan konfirmasi atas dugaan perambahan di kawasan hutan tersebut. Namun, hingga berita ini ditayangkan, Alex Gunawan yang mengaku pernah jadi wartawan di berbagai media itu tak membalas pesan tersebut meski terkonfirmasi contreng dua dan berwarna biru, sebagai tanda sudah dibaca.

Selain diduga merambah hutan, kedua perusahaan dibawah bendera USTP Group ini pun belum merealisasikan aturan 20 persen plasma dari luas hak guna usaha (HGU). Jika dihitung berdasarkan data peta tersebut, minimal luasan plasma yang harus disediakan oleh USTP Group ini 6.449,6 hektare dalam HGU. (BH/K2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed