
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Bedudus atau yang di sebut besuci bermandi – mandi ,Air dudus tersebut diambil dari teluk sungai yg sudah di tentukan dengan menggunakan kempit atau buyung, buyung merupakan tempat untuk membawa air yang besar perutnya, dibuat dari tanah.
Bedudus ini biasa di gunakan pada acara penobatan sultan ke 25-30 tahun, tidak hanya itu tetapi juga dapat digunakan pada acara adat pernikahan dan juga khitanan.
Pengambilan air dudus untuk upacara bersuci ini di lakukan dengan ritual bantal tulus sesajen sekepal nasi, sebutir telur ayam kampung, sebilah pisau, sirih hiliman, sepasang keminting,dan sepucuk rokok dari daun nipah.
Gusti Achmad Noor Selamat selaku Juru bicara Yang Mulia Sultan Kotawaringin XV menjelaskan, setelah melakukan ritual bantal tulus sesajen, air dudus tersebut di bawa dan di letakkan di bawah masjid, yang mana keesokan harinya akan di ambil kembali dan di letakkan ke tempat bernama bakor, yang nantinya akan di lanjutkan dengan meneteskan air tersebut kepada ubun ubun Kepala.
“Kemudian air dudus tersebut di bawa menuju masjid, dan diletakan di bawah mimbar masjid, dan keesokan harinya air dudus di ambil kembali lalu diletakan dalam tempat bernama bokor yg terbuat dari kuningan emas perak Yang akan di teteskan ke ubun ubun kepala, dengan menggunakan bunga cempaka Yg di laksanakan oleh beberapa tetua baik laki2 maupun perempuan,” jelas Gusti Achmad Noor Selamat.
Gusti Achmad Noor Selamat menambahkan, pada penobatan sultan ada satu tambahan yang wajib dilaksanakan yaitu duduk dan melakukan pemukulan Gong Datu macan berupa Gong Pusaka.
Gong datu macan ini berasal dari Ratu Kerajaan Majapahit yang di berikan kepada Puteranya Bernama pangeran Surya winata ,yang menikahi Puteri Junjung Buih pada Masa Lambung Mangkurat kerajaan banjar, dan Kemudian Pusaka Gong Macan itu menjadi pusaka, peninggalan Pangeran Aria Ningrat yang sekarang ini tersimpan di dalam Istana Kuning. (Risa)







