
Di persimpangan, kita menyadari bahwa ujung jalan tak hanya satu. Tak seperti balapan Motto GP yang saat memulai, pembalap seperti VR-46 sudah tahu ke mana arah finish.
Ada masanya, kita tidak harus menyelesaikan setiap hubungan sampai garis finish karena ketidakmampuan. Tidak harus memiliki apa yang dicintai karena keterbatasan. Tak harus bertahan di satu hati yang dicintai sementara sang pemilik hati sudah merasa tak membutuhkan. Juga tak harus seperti Ryan Giggs, Paul Scholes, Paolo Maldini atau Carles Puyol yang selama karier olahraganya hanya menghabiskan waktu di satu klub sepakbola yang mereka cintai.
Pada dasarnya, cinta juga mengajarkan bahwa segala sesuatu harus mengenal batas. Bahwa cinta tak mesti harus selamanya saling memiliki. Bahwasanya kita hanya menunggu waktu, sejauh mana kita mampu berjuang, sejauh mana kita mampu bertahan dan sejauh mana kita ikhlas untuk sesuatu yang dicintai.
Seperti itu pula cinta, Kotawaringin untuk Provinsi Kalimantan Tengah. Cinta untuk sang Tambun Bungai, bukan tak lagi dimiliki Kotawaringin. Namun, Ia ingin menyendiri. Membangun kejayaan sendiri.
Usulan pembentukan provinsi baru di kawasan Kotawaringin sudah ada sejak 15 September 1965. Saat itu, masyarakat Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat (sebelum masing-masing dimekarkan menjadi tiga kabupaten), sudah mengusulkan agar dibentuk daerah tingkat I atau provinsi dengan otonomi penuh.
Usulan provinsi baru di Kotawaringin kemudian dimantapkan dengan pembentukan Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kotawaringin (BP3K), Awalnya, BP3 K digagas di Kotim pada 2004, meski dalam perjalanannya terjadi pasang surut.
Seperti diketahui, ada lima kabupaten yang siap bersatu untuk membentuk Provinsi Kotawaringin dengan memekarkan diri dari Provinsi Kalteng, yakni Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, Lamandau dan Sukamara.
Pembentukan Provinsi Kotawaringin dengan memekarkan diri dari Provinsi Kalimantan Tengah sebagai keinginan yang wajar. Luas wilayah Kalimantan Tengah yang mencapai satu setengah kali luas Pulau Jawa, membuat jangkauan layanan kepada masyarakat kurang maksimal. Atas dasar itu, Kotawaringin ingin sendiri. Supaya pembangunan merata, kesejahteraan masyarakat pun terwujud.
Kadang, pisah adalah langka baik, meski menyakitkan. Masyarakat Kotawaringin ingin meringankan beban Kalimantan Tengah. Karena pisah, cukuplah. Kalimantan Tengah tak usah repot membagi pelayanan untuk Kotawaringin. Ia bisa berusaha sendiri. Membangun kejayaan sendiri. Dan menikmati hasil usaha mereka sendiri.
Bayu Harisma Nugraha
Alumnus Fakultas Filsafat Jurusan Ilmu Filsafat Konsentrasi Komunikasi Politik Universitas Gadjah Mada
Tinggal di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah
Bisa Menulis Sejak TK Nol Besar Aisyah Tasikmalaya Jawa Barat
Wakil Pemimpin Redaksi Kotawaringin News










