Menu

Jalan Terjal Lamandau Menuju Final Futsal Porwada Kalteng 2019

Bayu Harisma

Kotawaringin News, Palangka Raya – AH, Tim PWI Lamandau. Utara bukan, Tengah bukan, Timur pun bukan. Bagian dari wilayah barat di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang awalnya disepelekan.

Kalteng bagian Utara yang kaya raya, dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito sebagai pusatnya, menganggap Tim PWI Lamandau tak cukup kuat memiliki finansial. Kalteng bagian tengah, dengan DAS Kahayan sebagai pusatnya, pun melihat Tim PWI Lamandau terlalu lembek untuk bersaing. Kalteng bagian timur yang penuh keyakinan, dengan sumber daya manusia (SDM) yang melimpah memandang Tim PWI Lamandau tak akan mampu untuk melangkah jauh.

Seolah semua mencibir ; Meski mengaku sudah mandiri, punya tim sendiri tapi tetap saja kelas bawah, selamanya kelas bawah. Terbuang dan tak penting.

Ketika tim PWI Lamandau menang di pertandingan perdana, para pencibir bilang ; itu cuma keberuntungan saja. Ketika Tim PWI Lamandau menang telak melawan Tim PWI Barito Utara, pencibir mengerutkan dahi dan menggeleng kepala tak setuju. Ketika Tim PWI Lamandau menapakkan lolos dari fase group pun, para pencibir bertanya “Apakah kalian benar telah siap untuk bertanding di semi final? Terpana dengan skill para pemainnya yang pas-pasan dan keterbatasan pemain.”

Namun, bagi Tim PWI Lamandau, harapan selalu muncul di setiap perjuangan. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Jika mimpi dan harapan itu hanya sekadar membawa ke tempat biasa-biasa saja, tak apalah, setidaknya Tim PWI Lamandau telah menunjukan, bahwa di setiap perjalanan kehidupan haruslah diperjuangkan walaupun dinaungi keterbatasan.

Tim PWI Lamandau, belajar lagi tentang apa itu yang dinamakan harapan. Belajar lagi tentang apa itu memulai segala sesuatunya dari bawah. Tak ada keagungan, tak ada kemewahan. Yang ada hanya satu rasa, satu nasib sepenanggungan.

Tim Futsal PWI Lamandau kala mengikuti acara pembukaan Porwada Kalteng 2019 di GOR KONI Kalteng, Palangka Raya. (Foto : Dok PWI Lamandau)

Sejak 7 Desember 2019, Persatuan Wartawan Indonesia menggelar Pekan Olahraga Wartawan Daerah Kalimantan Tengah (Kalteng) 2019. Artinya, setiap daerah yang berada di wilayah provinsi berjuluk Bumi Tambun Bungai ini berkompetisi dalam berbagai cabang olahraga (Cabor). Tak kurang dari 9 cabor dipertandingkan. Dari 9 cabor yang dipertandingkan itu, tentulah Futsal yang paling prestisius. Dan untuk pertama kalinya pula, sejak adanya penyelenggaraan Porwada Kalteng, Lamandau mempunyai tim futsal sendiri. Karena biasanya, Lamandau selalu mengekor ke kabupaten induk. Ya, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Awalnya, Tim Futsal PWI Lamandau dipandang sebelah mata. Jangankan menjadi tim papan atas, menjadi tim medioker pun tak teranggap. Dinilai hanya kelas bawah yang mengandalkan peruntungan. Palangka Raya, Kotawaringin Timur, Murung Raya, Pulang Pisau, Katingan dan Seruyan selalu menjadi tim unggulan untuk menjadi jawara.

Nama-nama pemain tim futsal PWI Lamandau tak sementereng lainnya. Pun tak sebanyak tim lainnya. Di line up tim PWI Lamandau hanya diisi oleh Hendi Nurfalah, Bobiyansyah, Bayu Eko Setiawan, Karamoi Suartono, Bayu Harisma, Rahmad Minarto, Hanafi, Fuad Siddiq dan Heryadi, pemain yang umurnya sudah kelewat uzur untuk sekelas penyerang. Sebagian besar para pemainnya pun tak memiliki skill mumpuni dalam memainkan si kulit bundar. Bahkan, sebelum mengikuti Porwada 2019 ini, Tim Futsal PWI Lamandau hanya sekali latihan bersama. Itu pun pemainnya tak komplit.

Di pertandingan perdana fase group A, sungguh di luar dugaan, Tim PWI Lamandau menang telak 8-1 melawan Tim PWI Barito Utara. Padahal, Tim PWI Barito Utara memiliki sumber daya pemain yang melimpah.

Dibuka dengan gol spektakuler Rahmad Minarto, Tim PWI Lamandau mulai percaya diri. Keran gol pun berlanjut yang dilesatkan Heryadi dan Bobiyansyah masing-masing 2 gol serta penyerang pengganti Bayu Harisma 3 gol. Tim PWI Barito Utara hanya mampu membalas 1 gol hiburan di pertengahan babak kedua.

Skema formasi dasar Tim PWI Lamandau yakni 2-1-1. Artinya, pola permainan Tim PWI Lamandau yang disiplin dan mengandalkan serangan balik, menjadi modal utama saat menggilas Tim PWI Barito Utara.

Di hari yang sama, pertandingan fase group A selanjutnya, Tim PWI Lamandau berhadapan dengan tim unggulan PWI Seruyan-Katingan. Namun, para pemain PWI Lamandau sudah kelelahan. Bahkan, sejumlah pemainnya mengalami cidera. Alhasil, PWI Lamandau dibantai tanpa balas 3-0.

Foto bersama Tim Futsal PWI Lamandau dengan PWI Seruyan-Katingan sebelum pertandingan babak penyisihan futsal Porwada Kalteng 2019, dimulai. (Foto : Dok PWI Lamandau)

Di sisi lain fase group A, tim PWI Seruyan-Katingan pun berhasil mengalahkan Tim PWI Barito Utara dengan skor menakjubkan 9-1. Otomatis, PWI Seruyan-Katingan menjadi juara group A didampingi PWI Lamandau untuk lolos ke fase knock out.

Di group B. Secara mengejutkan, PWI Kotawaringin Timur (Kotim) harus angkat koper lebih dulu. Tim PWI Kotim menelan kekalahan beruntun dari Tim PWI Murung Raya-Palangka Raya (Mura) dan Tim PWI Pulang Pisau. Tim PWI Mura menjadi juara group setelah mengalahkan Tim PWI Pulang Pisau.

Foto bersama sebelum pertandingan penyisihan futsal Porwada Kalteng 2019 antara PWI Kotim dan PWI Pulang Pisau. (Foto : Laman Facebook Yoga Wee)

Pijat Refleksi

Fisik para pemain PWI Lamandau sungguh ringkih. Cidera ringan hingga berat usai melakoni babak penyisihan group melanda pasukan PWI Bumi Bahaum Bakuba itu. Para pemain pun mengalami kelelahan usai berjibaku melawan Tim PWI Barito Utara serta Tim PWI Seruyan-Katingan, dalam waktu sehari.

Menyadari kondisi itu, pada malam harinya seusai pertandingan babak penyisihan itu, pemain PWI Lamandau dipijat secara masal. Seluruh tubuh mereka diurut di sebuah tempat pijat refleksi di Jalan Bukit Kaminting Palangka Raya.

Ilustrasi pijat refleksi. (Foto : Online)

Mereka saling bersahutan berteriak kesakitan kala sang pemijat mengurut urat-urat di tubuhnya yang semerawut. Tak kurang dari 1,5 jam, mereka dipijat refleksi. “Memang enggak langsung sembuh sih. Masih terasa sakit untuk berjalan. Tapi agak mendingan lah, daripada tadi sebelum diurut ini. Mudah-mudahan besok di babak knock out bisa fit,” harap salah seorang pemain PWI Lamandau, Bobiyansyah, seusai dipijat refleksi.

Untuk menyiapkan fisik di babak knock out, setelah dipijat refleksi, para pemain PWI Lamandau pun langsung beristirahat di penginapan di daerah Jalan Garuda Palangka Raya.

Knock Out

Di hari berikutnya, Minggu 8 Desember 2019, fase knock out Porwada Cabor Futsal, digelar jelang siang. Tim PWI Lamandau menghadapi juara group B yakni Tim PWI Mura. Sedangkan Tim PWI Seruyan-Katingan berhadapan Runner up group B, Tim PWI Pulang Pisau.

Melawan Tim PWI Mura, Tim PWI Lamandau tentu sangat tidak diunggulkan. Pasalnya, susunan pemain Tim PWI Mura didominasi pemain berpengalaman. Bahkan, menjadi Juara di Porwada sebelumnya.

Menjadi under dog, justru memotivasi para pemain Tim PWI Lamandau. Hasrat untuk mengalahkan sang juara bertahan, tertanam di benak setiap pemain Tim PWI Lamandau. “Sulit memang, namun jika berjuang tentunya ada harapan. Kita berusaha mewujudkan harapan itu jadi kenyataan,” kata salah seorang pemain Hendi Nurfalah yang juga menjabat sebagai Ketua PWI Lamandau.

Permainan begitu ketat, sehingga menguras tenaga. Tim PWI Mura sungguh apik memainkan bola. Baru berjalan kurang dari 5 menit di babak pertama, peluh keringat sudah kuyup membasahi baju para pemain. Sialnya bagi Tim PWI Lamandau, stok cadangan tak mumpuni. Ditambah, banyak pemain yang mengalami cidera di babak penyisihan group. Gencarnya serangan Tim PWI Mura pun akhirnya tak mampu dibendung PWI Lamandau, 1-0 untuk keunggulan sementara Tim PWI Mura.

Para pemain PWI Lamandau kala berswafoto sebelum bermain futsal Porwada Kalteng 2019 di GOR KONI. (Foto : Dok PWI Lamandau)

Terus diserang, time out pun dilayangkan kubu PWI Lamandau. Ya, bagian dari strategi untuk menstabilkan nafas, menenangkan fikiran dan membentuk pola serangan. Hasilnya memuaskan, Tim PWI Lamandau mampu membalikan keadaan. Gol penyama kedudukan yang berawal dari tendangan keras di tengah lapangan oleh Hendi Nurfalah, tercipta dan menjadi titik balik semangat Tim PWI Lamandau. Di akhir babak pertama, Tim PWI Lamandau mampu unggul 3-1.

Di babak kedua, Tim PWI Mura kian gencar menyerang. Bahkan, Tim PWI Mura sempat menyamakan kedudukan 3-3. Namun berkat perjuangan yang tanpa lelah dari para pemain PWI Lamandau, akhirnya menuai hasil.

Terus menyerang, Tim PWI Mura lupa akan pertahanan. Lubang pertahanan itu dimanfaatkan dengan baik oleh para pemain Tim PWI Lamandau. Hasilnya, PWI Lamandau mampu menambah 2 gol cepat. 5-3 pun menjadi skor akhir untuk kemenangan PWI Lamandau. Satu tempat laga Final untuk PWI Lamandau.

Sementara itu, Tim PWI Seruyan-Katingan mampu mengalahkan Tim PWI Pulang Pisau di babak knock out. Artinya, Tim PWI Seruyan-Katingan kembali bertemu dengan Tim PWI Lamandau.

Jeda waktu yang minim serta para pemain yang terbatas membuat Tim PWI Lamandau kian ‘tersiksa’. Apalagi, tiga pemain PWI Lamandau (Rahmad, Hendi dan Hanafi) pun ikut Cabor sepak bola.

Diketahui, sebelum berlangsung babak knock out Cabor Futsal, digelar pertandingan sepak bola di markas Kalteng Putra, lapangan Tuah Pahoe Palangka Raya. Khusus untuk Cabor sepak bola ini, tidak ada pertandingan antardaerah. Tim sepak bola di Porwada Kalteng ini melakukan tanding eksebisi dengan Tim Bank Kalteng serta Persepun. Pertandingan eksebisi tersebut menjadi ajang seleksi pemain dari seluruh wilayah Kalteng untuk dijadikan tim sepak bola yang akan berlaga di event Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2020 di Malang Raya, Jawa Timur.

Laga puncak futsal Porwada Kalteng 2019 sungguh meriah. Hampir semua atlet dari berbagai Cabor yang di perlombakan di Porwada Kalteng 2019, hadir menonton. Apalagi, laga final ini menjadi rangkaian akhir dari Porwada Kalteng 2019.

“Kami bangga dan terharu. Ini diluar ekspektasi, bisa lolos ke final. Padahal, target realistis kami adalah lolos dari fase group,” ujar Manager Tim Futsal PWI Lamandau, Bintang Rahmadi.

Saatnya Final

Satu per satu dari para pemain memasuki lapangan futsal GOR KONI Kalteng, di Palangka Raya. Tepuk tangan penonton menggemuruh, sebagian banyak bibir-bibir mereka teriak melafalkan kalimat Lamandau Juara, menggema di gedung khusus fenue futsal itu.

Penonton condong mendukung Tim Futsal PWI Lamandau, karena under dog. Sejarah bakal tercipta. Tim yang baru lahir, diharapkan jadi juara. Mungkin Tim PWI Lamandau tercipta untuk bisa menunjukan bahwa setiap harapan, kerja keras serta perjuangan pasti tidak sia-sia. “Salut buat Lamandau. Mudah-mudahan Juara,” ujar salah seorang penonton, Yoga Wee yang juga menjabat sebagai Ketua PWI Pulang Pisau.

Foto bersama PWI Lamandau dan PWI Seruyan-Katingan sebelum laga final Futsal Porwada Kalteng 2019. (Foto : Dok PWI Lamandau)

Peluit tanda dimulainya pertandingan final pun ditiup sang pengadil lapangan. Kick off pertama dilakukan oleh Tim PWI Lamandau. Namun tak berselang lama, bola pun berhasil direbut oleh pemain nomor punggung 9 Tim PWI Seruyan-Katingan, Annas Rullah. Sejak awal, Tim PWI Seruyan-Katingan mendominasi jalannya pertandingan. Pertahanan Tim PWI Lamandau terus dibombardir para pemain PWI Seruyan-Katingan. Namun beruntung, berkali-kali tendangan jarak jauh yang dilepaskan pemain-pemain PWI Seruyan-Katingan membentur tembok kokoh Tim PWI Lamandau.

Di pertengahan babak pertama, tembok pertahanan Tim PWI Lamandau akhirnya runtuh. Dimulai dari aksi individu penyerang Tim PWI Seruyan-Katingan Annas Rulah yang berhasil mengecoh pemain tengah Tim PWI Lamandau. Alhasil, Annas pun mempunyai posisi tembak yang ideal. Tanpa ampun, dia langsung melancarkan tendangan keras dari jarak jauh dan berhasil membobol gawang Tim PWI Lamandau.

Tertinggal, Tim PWI Lamandau mulai memberanikan diri untuk menyerang. Meski tampak fisik mereka sudah tak sanggup, hanya semangat saja yang tertinggal di dalam diri tiap pemainnya.

Setelah menerima umpan langsung dari penjaga gawang, pemain tengah tim PWI Lamandau, Hanafi membalikan posisi badannya ke arah gawang lawan. Tanpa ragu, Hanafi melakukan shooting keras kaki kiri ke arah gawang dari tengah lapangan. Beruntung bagi Tim PWI Lamamdau, si kulit bundar mengenai pemain bertahan Tim PWI Seruyan-Katingan, sehingga berbelok arah menjadi bola lob. Penjaga gawang Tim PWI Seruyan-Katingan yang kadung bergerak ke arah kanan tak mampu menghalau bola defleksi itu, dan masuk ke gawang. Sempat diwarnai protes keras atas gol tersebut oleh pemain Tim PWI Seruyan-Katingan, namun wasit tak menggubris, kedudukan pun menjadi imbang 1-1, dan bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, permainan keras diperagakan kedua tim. Pelanggaran pun silih berganti. Di pertengahan babak kedua, pemain pengganti dari tim PWI Lamandau Bayu Harisma mencetak goal membalikan keunggulan menjadi 2-1. Berawal dari tendangan keras Hanafi dari sisi kiri gawang, bola rebound yang terhalau penjaga gawang lawan, langsung di sambar pemain bernomor punggung 8 itu. Namun, 2 menit setelah mencetak goal, Bayu Harisma harus kembali ditarik keluar lapangan karena cedera hamstring kaki kiri yang didapat dari pertandingan perdana babak penyisihan, kambuh.

Kondisi unggul membuat Tim PWI Lamandau menumpuk pemain di garis pertahanan. Tenaga sudah terkuras habis, pemain pengganti pun sudah tak mampu memberikan warna permainan. Dengan ulet, tim PWI Seruyan-Katingan terus membombardir pertahanan Tim PWI Lamandau.

Meski waktu babak kedua tinggal menyisakan 3 menit sebelum usai, Tim PWI Seruyan-Katingan tak menyerah untuk mendapatkan gol penyeimbang. Di menit ke-18, berawal dari akselerasi M Yadi di sisi kiri lapangan, berhasil melewati garis pertahanan terakhir Tim PWI Lamandau yang dijaga Hendi Nurfalah. Sontak, pemain belakang lainnya, Rahmad Minarto melakukan sleding tekel untuk merebut bola dari M Yadi. Namun, tekelnya itu malah mengenai kaki pemain yang juga menjabat sebagai Ketua PWI Seruyan tersebut. Tanpa ragu, wasit pun menunjuk titik putih. Annas Rullah, dengan sempurna mengeksekusi pinalti untuk menyamakan skor 2-2.

Semenit berselang, M Yadi ‘menggila’. Dia menjadi penentu kemenangan tim PWI Seruyan-Katingan. Berawal dari umpan lambung yang dikirim ke pertahanan tim PWI Lamandau, M Yadi berhasil mengecoh dua pemain bertahan tim lawannya itu. Langsung berhadapan dengan penjaga gawang, M Yadi dengan mudah menceploskan bola ke gawang melewati sela kaki kiper tim PWI Lamandau yang di kawal Bayu Eko Setiawan. Skor 3-2 untuk kemenangan tim PWI Seruyan-Katingan bertahan hingga akhir pertandingan. Tim Seruyan-Katingan pun berhak meraih gelar juara Cabor Futsal Porwada Kalteng 2019.

Di tengah keriuhan kemenangan tim PWI Seruyan-Katingan, para pemain Tim PWI Lamandau tak berkecil hati. Mereka berbangga, menegakan kepala. Rona wajah mereka terpancar berseri meski menjadi Runner up. Tak ada kesedihan, tak ada air mata, walau kondisi fisik mereka tengah berada di titik terendah. Mereka sadar, jika kelelahan, keram otot, hamstring, bengkak dan luka berdarah di bagian lutut adalah risiko dari perjuangan. Mereka berpelukan, memberi semangat dan saling menguatkan.

Meski hanya diisi pemain yang biasa-biasa saja tanpa gemerlap cap kebintangan, setidaknya tim PWI Lamandau telah memberikan pelajaran bahwa setiap harapan, keyakinan dan perjuangan membuahkan hasil yang manis. “Walaupun bukan yang terbaik, ini adalah sebuah harapan bagi kami yang awalnya diperkirakan tidak mungkin terwujud, dan kami sangat berbangga hati,” kata Hendi Nurfalah.

Ditraktir Makan Sang Juara

Meski berbangga, kekalahan di final Futsal Porwada Kalteng 2019, masih terngiang di benak setiap pemain PWI Lamandau. Mereka saling bercengkrama, meluapkan keluh kesahnya, meluapkan kesakitannya. Membahas soal posisi, membahas soal kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki kedepannya. Mereka saling berandai-andai, dengan mengutak-atik langkah yang seharusnya dilakukan saat pertandingan final tadi. “Ya namanya juga itu sudah terjadi. Tapi ini sebagai bahan pelajaran kami untuk kedepannya,” ungkap Hendi.

Di malam harinya, para pemain PWI Lamandau bersepakat untuk kembali mendatangi tempat pijat refleksi. Niatnya sama dengan malam sebelumnya yakni memperbaiki tubuh mereka yang hancur saat melakoni laga semi final sekaligus final. Kala dipijat, teriakan kesakitan mereka lebih keras dibanding malam sebelumnya. Lebih banyak urat yang semerawut di tubuh mereka. Durasi pijat pun bertambah menjadi 2 jam lebih. Para pemijat pun sampai menggelengkan kepala, karena saking banyaknya kerusakan di tubuh para pemain PWI Lamandau yang harus mereka perbaiki. “Ancur kang, pabeulit keriting iyeu mah uratna (Hancur, semerawut keriting urat-uratnya),” ungkap salah seorang pemijat asal Jawa Barat yang biasa disebut, Abah, kala memijat.

Sepanjang dipijat, para pemain seperti paduan suara melantunkan teriakan berjudul ‘Aduh Sakit’.

Dua pemain PWI Lamandau saat berfoto bersama dengan salah seorang senior PWI Seruyan yang kini juga menjabat sebagai Ketua DPRD Seruyan, Zuli Eko Prasetyo (batik coklat) serta seorang temannya di kawasan kuliner Yos Sudarso Palangka Raya. (Foto : Dok PWI Lamandau)

Seusai dipijit refleksi, para pemain PWI Lamandau, merengek kelaparan. Mereka pun langsung menuju kawasan kuliner di Jalan Yos Sudarso Palangka Raya. Tempat makan nomor 031, menjadi pilihan mereka untuk mengisi perut. Banyak pilihan menu, mulai dari ikan, ayam, bebek hingga sea food. Yang spesial adalah sambalnya. Ulekan cabe rawit mentah dicampur tomat tanpa digoreng menjadi primadona para pemain PWI Lamandau untuk dipesan sebagai sambal.

Mereka menunggu hidangan sembari bercengkrama. Bahasannya tetap sama, yaitu laga Final Futsal Porwada Kalteng 2019. Ditengah ngalor-ngidulnya bercerita, salah seorang senior PWI Seruyan yang kini menjadi menjabat sebagai Ketua DPRD Seruyan, Zuli Eko Prasetyo, datang menghampiri ditemani dua ajudannya. Dia menyalami setiap pemain PWI Lamandau. Tentu, bercerita semakin lebih hangat ditengah hujan deras yang mengguyur kala itu.

Selang beberapa waktu, akhirnya pesanan makanan yang ditunggu pun datang, semua langsung lahap memakannya. Sembari makan, mereka pun tetap saling bercerita. Walau kebanyakannya cerita masa lalu yang ngalor-ngidul, beberapa kali Zuli Eko menyelipkan bahasan soal final futsal Porwada Kalteng 2019. Dia, tentu membanggakan Tim Seruyan-Katingan. “Mudah-mudahan nanti di Porwada selanjutnya bertemu Seruyan lagi, dan Seruyan Juara lagi,” ujar dia sambil tertawa.

Di akhir, setelah usai makan dan sebelum waktunya pulang untuk istirahat ke penginapan, saatnya membayar makan. Namun, semua makanan yang dipesan setiap pemain PWI Lamandau dibayari oleh Zuli Eko Prasetyo. “Bayari semua,” ujar dia menyuruh ajudannya untuk membayar semua biaya makan ke kasir.

No comments

Tinggalkan Balasan

Panglima Utar

Ikuti Kami Di Facebook