Menu

Ini Tanggapan PT Korintiga Hutani Soal Dugaan Pencemaran Sungai Mentajai

Bayu Harisma

Kotawaringin News, Lamandau – Dugaan pecemaran air Sungai Mentajai yang melintasi wilayah Desa Sumber Jaya (H5) Kecamatan Menthobi Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, mendapat respon dari PT Korintiga Hutani (KTH).

Sebelumnya, masyarakat di desa tersebut mengeluhkan kondisi air Sungai Mentajai yang diduga tercemar dari aktivitas usaha PT KTH. Pasalnya, air sungai yang selama ini menjadi salahsatu sumber mata air di desa tersebut tak dapat lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti biasanya, dikarenakan kondisi air sungai saat ini sangat keruh dan cenderung berwarna hitam bahkan juga diduga beracun.

Merespon keluhan masyarakat, jajaran manajemen PT KTH langsung melakukan identivikasi lapangan. PT KTH pun tidak menampik jika aktivitas produksinya di wilayah Desa Sumber Jaya itu membuat kondisi air Sungai Mentajai berubah menjadi hitam. Meski begitu, PT KTH memastikan bahwa jika aktivitas produksi selesai, pihaknya akan melakukan normalisasi sungai.

Manager Kelola Lingkungan PT KTH, Budi Pitaya, menduga perubahan warna air sungai yang sempat terjadi di aliran sungai yang mengalir ke wilayah perkampungan desa Sumber Jaya itu diakibatkan dari adanya guguran daun dan limbah batang pohon ekaliputus yang sempat terbuang ke bantaran sungai. Kondisi tersebut diklaim sebagai fenomena biasa di wilayah yang memang sedang ada aktivitas produksi.

“Kami pastikan bahwa dugaan warga pada beberapa waktu lalu bahwa air Sungai Mentajai sempat tercemar limbah akibat aktivitas okupasi perusahaan, itu tidak benar. Yang benar adalah, di wilayah tersebut perusahaan sedang melakukan aktivitas produksi berupa penebangan, dari aktivitas itu mungkin daun-daun dan ranting pohon yang ditebang itu ada yang masuk ke sungai, sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan warna air, itu saja, dan itu sifatnyapun sementara,” kata Budi Pitaya.

Budi Pitaya menegaskan, perubahan warna air sungai akibat tertutup daun atau ranting pohon ekaliptus pelita (EP) juga dipastikan tidak berbahaya atau tidak mengandung racun.

“Sehingga jika disebutkan ada ikan sungai mati karena limbah daun dan ranting ekaliptus yang masuk ke sungai itu, kami tidak yakin. Makanya kami saat ini telah menyegerakan mengambil sampel airnya untuk segera dicek di laboratorium agar dapat secepatnya mengetahui ada apakah ada kandungan lain diluar dampak produksi atau tidak, meskipun air sungai berwarna hitam itu hanya terjadi beberapa hari saja dan saat ini kondisinya sudah kembali jernih dan normal,” tegasnya.

Sementara itu, Manager Perencana PT KTH Ruji Santoso, membenarkan bahwa PT KTH sedang melakukan aktivitas produksi siklus lima tahunan di wilayah yang sebagaian wilayahnya masuk ke Desa Sumber Jaya. Di wilayah itu, proses produksi berupa penebanganpun sudah dilakulan sejak bulan Mei hingga Agustus 2019.

“Sesuai SOP, kami juga telah melakukan monitoring riil untuk memastikan aktivitas produksi yang dilakukan itu betul-betul sesuai ketentuan. Termasuk, setelah semua aktivitas produksi dinyatakan selesai, kami juga pasti akan melakukan normalisasi sungai yang terdampak aktivitas produksi, terlebih saat ini kita akan memasuki musim penghujan,” katanya.

Ruji Santoso juga memastikan bahwa PT KTH sangat terbuka untuk menjalin komunikasi dengan semua pihak agar segala problematikan dapat diselesaikankan dengan cepat.

“Sebetulnya perihal adanya dugaan pencemaran sungai inipun, begitu kami dengar infonya kami segera turun ke lapangan, sekalipun belum ada laporan atau pemberitahuan resmi dari pemerintah desa setempat, ternyata faktanya air sungai saat kami cek pada akhir pekan lalupun sudah kembali mormal,” sebutnya.

No comments

Tinggalkan Balasan

Ikuti Kami Di Facebook