Harapan, Perjuangan dan Semangat Pluralisme

banner 468x60

Ah, Pangkalan Banteng.

Selatan bukan, Utara bukan. Bagian dari Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang awalnya disepelekan.

banner 336x280

Kobar Selatan yang kaya raya, dengan Pangkalan Bun sebagai pusatnya, menganggap Pangkalan Banteng tak cukup berbudaya. Hanya sedikit saja lebih mujur dari Kobar Utara.

Kobar Utara yang kasar, penuh keyakinan, dengan kekayaan alam yang bisa menghidupkan seluruh Kobar, melihat Pangkalan Banteng lembek seperti Kobar Selatan.

Seolah semua mencibir ; Meski mengaku kota tapi tetap pedalaman, selamanya kota pedalaman. Terbuang dan tak penting.

Ketika Pangkalan Banteng mencampur bumbu Soto Manggala dengan Soto Lamongan, para pencibir bilang ; rasanya bukan Kobar lagi.
Ketika warung makan Pangkalan Banteng menyediakan Nasi Pecel (makanan Jawa Timuran), Pecel Lele (Goreng Lele campur sambal lalapan gaya Jawa Tengahan), bercampur dengan Soto Manggala (makanan khas Kobar) dalam satu mampan, pencibir mengerutkan dahi dan menggeleng kepala tak setuju.

Ketika Pangkalan Banteng mengenakan pakaian berwarna kuning, para pencibir bertanya “Apakah kalian benar telah merasa menjadi orang Kobar? Terpana dengan warna kulit kalian yang hitam, putih, kuning, keling, dan sekian rupa.”

Namun, bagi Pangkalan Banteng, manusia adalah manusia. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Pangkalan Banteng menerima Transmigran Jawa, Sunda, Maluku, Sumatra dan Ambon. Siapa saja asal mau. Pangkalan Banteng melindungi dan menyantuni para trasmigran. Layaknya saudara sendiri.

Lalu tanpa bukti seluruh pencibir berasumsi, Pangkalan Banteng tak lebih dari buangan dan tak kurang dari pecundang. Kalau tidak, dari mana uang untuk membiayai kehidupan warganya itu?

Tapi para pencibir itu lupa untuk berkaca sebelum menuduh demikian. Seolah hina kalau hampir separuh penduduk Pangkalan Banteng adalah trasmigran. Seolah tak berharga kalau sepertiga penduduk Pangkalan Banteng, pendatang.

Para pencibir itu tak melihat bahwa para trasmigran telah mengubah lahan tak bermakna jadi berharga. Mereka lupa siapa yang menjadi buruh untuk menjaga agar industri pertanian dan perkebunan tidak mati.

Bahkan, kini perlahan warga Pangkalan Banteng telah menjadi pelaku dari pengembangan perekonomian di kabupaten berjuluk Bumi Marunting Batu Aji ini.

Ah… Memang kamu Pangkalan Banteng
Kamu adalah sebab bagi khalayak bahwa wilayahmu bukan sekadar sebuah kota. Tapi sebuah harapan. Mimpi akan kemanusiaan yang lebih baik.

Tak apa, jika mimpi dan harapan itu hanya sekadar membawa ke sebuah hidup yang biasa-biasa saja. Setidaknya Pangkalan Banteng telah menjadi pemberi kesempatan kepada siapa saja yang ingin mencoba peruntungan kehidupan yang layak.

Sejak tahun 70-an, Pangkalan Banteng memang menjadi sasaran program trasmigrasi. Kepedihan dan air mata silih berganti menemani kisah hidup para trasmigran. Saat datang, para trasmigran itu ditonton, disoraki. Mereka dicap orang buangan yang tak berguna.

Untunglah, Pangkalan Banteng tak pernah lupa untuk menyimpan DNA hati yang suci, yang menjadi tempat bagi para trasmigran bernaung merajut asa.

Meski pedih, para trasmigran seperti mendapat kesempatan kedua dalam hidup. Bisa jadi ketiga. Bahkan keempat. Atau mingkin kelima?

Mereka para trasmigran berkumpul, bersatu. Belajar lagi tentang apa itu yang dinamakan harapan. Belajar lagi tentang apa itu memulai segala sesuatunya dari bawah. Tak ada kemewahan. Tak ada keagungan. Yang ada hanya satu rasa: satu nasib sepenanggungan.

Ah… Dasar Pangkalan Banteng.
Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Satu per satu dari para trasmigran mulai menemukan garis peruntungan. Kehidupan manis mulai dipetik dari setiap pohon yang ditanam dengan ketekunan, kesabaran dan kerjakeras.

Tak bisa dimungkiri, dari rahim trasmigran, Pangkalan Banteng bak disulap lahir agung. Dari peluh keringat trasmigran, Pangkalan Banteng jadi menggeliat.

Kini, Pangkalan Banteng mulai menunjukan tanduk. Warganya saling bahu membahu untuk membangun peradaban ipoleksosbud khas Pangkalan Banteng. Mungkin Pangkalan Banteng diciptakan Tuhan untuk menunjukan bahwa setiap harapan, perjuangan serta tak membeda-bedakan sesama pasti berakhir indah alias Happy Ending, bukan Happy New Years atau Happy Salma. Salut buat Pangkalan Banteng.

Pangkalan Banteng memang baik hati. Menaungi, melindungi dan mensejahterakan. Kalaupun di kehidupan mendatang Pangkalan Banteng hanya menjadi wilayah yang biasa-biasa saja tanpa gemerlap cap kekotaan yang kekinian, setidaknya Pangkalan Banteng pernah memberikan sebuah harapan bagi para trasmigran yang awalnya diperkirakan tidak mungkin terwujud.

Bayu Harisma Nugraha
Alumnus Fakultas Filsafat Jurusan Ilmu Filsafat Konsentrasi Komunikasi Politik Universitas Gadjah Mada
Tinggal di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah
Bisa Menulis Sejak TK Nol Besar Aisyah Tasikmalaya Jawa Barat
Pemimpin Redaksi Kotawaringin News

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *