
Kotawaringin News, Kuala Pembuang – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seruyan meminta pemerintah daerah setempat melalui dinas terkaitnya agar dapat membantu masyarakat dalam mengelola kebun kopi.
Anggota DPRD Seruyan Atinita mengatakan, harga kopi di Kabupaten Seruyan saat ini yang masih berbentuk biji kini bisa mencapai Rp. 40.000 per kilo seperti di daerah pemilihan III (dapil III) yang meliputi Kecamatan Seruyan Tengah, Seruyan Hulu, Batu Ampar dan Suling Tambun.
“Melihat tingginya harga kopi ini, maka dari itu saya berharap dinas terkait dalam ini Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian setempat dapat membantu petani kopi dalam pengeloaan kebun mereka,” ujarnya, Kamis, (2/6/22).
Pemerintah harus bisa memanfaatkan potensi tersebut untuk membantu memaksimalkan kebun kopi masyarakat, hal ini juga bertujuan untuk mendukung sektor perekonomian di dapil III yang kebanyakan dari masyarakat berprofesi sebagai petani.
Lanjut, Atinita yang juga seorang petani kopi tersebut menambahkan, bahwa saat ini banyak kendala yang dihadapi oleh petani kopi dapil III. “Meski harga kopi yang cukup menjanjikan, namun tidak sedikit dari mereka itu yang tidak bisa memaksimalkan lahan mereka sebagai penghasil kopi,” bebernya.
Misalnya, kendala yang paling banyak dihadapi petani saat ini ialah status lahan kawasan hutan (KHP) sehingga banyak dari masyarakat tidak bisa memaksimalkan lahan kosong untuk lahan perkebunan kopi.
“Padahal dari tingkat kesuburannya tanah di sana sangat subur dan tidak perlu lagi dipupuk, hanya saja status KHP ini sehingga masyarakat tidak bisa menggarap lahan mereka untuk bertani kopi,” jelasnya.
Politikus Partai Golkar itu menegaskan, persoalan ini sebenarnya bisa saja diatasi, pemerintah melalui instansi teknisnya hanya perlu mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk pelepasan status kawasan hutan, sehingga petani bisa memaksimalkan lahan mereka kembali yang diharapkan dapat membantu perekonomian di wilayah setempat.
“Ini harus menjadi atensi pemerintah saat ini, kalau terkait pemasaran tidak jadi masalah, karena sudah ada pengrajin dari Pontianak yang siap membeli hasil panen kopi masyarakat dengan harga tersebut,” pungkasnya. (NP)







