
Muhammad Syauqi Ananda Arsi, anak ketiga dari pasangan Arba'i (30) dan Susilawati (28). (Istimewa)
Kotawaringin News, Lamandau – “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156).
Bayi pengidap hidrosefalus dari Desa Sungai Mentawa Kecamatan Bulik Kabupaten Lamandau, Muhammad Syauqi Ananda Arsi, meninggal dunia. Anak dari pasangan Susilawati (28) dan Arba’i (30) tersebut mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Kariadi Semarang Jawa Tengah, sekira pukul 23.30 WIB, Minggu 23 Agustus 2020.
“Mungkin Allah SWT sayang kepada Arsi, dan itulah jalan yang terbaik,” ungkap Susilawati, terisak pilu melalui telepon Whatsapp, Senin 24 Agustus 2020.
Susi tak mengira Arsi meninggal dunia secara mendadak. Pasalnya, operasi penyakit hidrosefalus Arsi, berjalan mulus. Bahkan, pasca operasi tersebut tidak ada tanda-tanda Arsi mengalami kesakitan. “Benar, arsi telah meninggal dunia malam tadi, ada kenaikan tekanan di jantungnya, lemah dan tidak kuat,” ujarnya, Senin 24 Agustus 2020.
Sementara itu, jenazah Arsi akan diterbangkan dari Semarang ke Pangkalan Bun, jam 11.00 WIB, Senin 24 Agustus 2020. Jenazah akan dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Sungai Mentawa.
Seperti diketahui, Muhammad Syauqi Ananda Arsi adalah bayi mengidap penyakit hidrosefalus (hydrocephalus) sejak lahir dari dalam kandungan ibunya. Hidrosefalus adalah kondisi penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak. Arti harfiah dari penyakit ini adalah air di dalam otak. (BH/K2)










