
Muhammad Syauqi Ananda Arsi, anak ketiga dari pasangan Arba'i (30) dan Susilawati (28). (Istimewa)
Oleh : Bayu Harisma Nugraha
Kotawaringin News, Lamandau – Sore itu, seorang ibu muda terlihat menggendong anaknya yang lemah lunglai tak berdaya, di Desa Sungai Mentawa, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah. Kepala bayi itu tampak lebih besar dari badannya yang mungil. Sesekali sang bayi menangis pelan seperti sudah tak kuat menahan sakit yang mendera kepalanya. Ia Muhammad Syauqi Ananda Arsi. Bayi berumur tiga bulan itu divonis mengidap penyakit hidrosefalus (hydrocephalus) sedari dalam kandungan ibunya.
Hidrosefalus adalah kondisi penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak. Arti harfiah dari penyakit ini adalah air di dalam otak.
Muhammad Syauqi Ananda Arsi tampak begitu menderita. Kepalanya terus membesar sejak ia terlahir ke dunia. Ia anak ketiga dari pasangan Arba’i (30) dan Susilawati (28).
Sang ibu, Susilawati mengaku tak kuasa menahan tangis setiap mendengar anaknya itu meringis kesakitan. Selama ini, untuk pengobatan Arsi, kedua orangtuanya mengandalkan BPJS. Perlindungan kesehatan tersebut didapat keluarga Arsi, karena sang ayah bekerja sebagai security di salah satu perusahaan di Lamandau.
“Dulu waktu kondisi Arsi pasca melahirkan sebenarnya sudah lumayan stabil. RSUD Imanuddin Pangkalan Bun menganjurkan harus dibawa ke Semarang Rumah Sakit Karyadi untuk penanganan lebih lanjut. Setelah mau di berangkat pihak RSUD Imanuddin Pangkalan Bun memberitahukan harus ditunda dulu, karena lagi dalam wabah pandemi Covid-19, dan akhirnya arsi hanya bisa dibawa pulang ke rumah saja,” ungkap Susi sembari menitikan air mata.
Sebenarnya, saat itu orang tua Arsi tak tahu harus bagaimana caranya bisa berangkat ke Rumah Sakit Karyadi Semarang. Karena, selain bertepatan dengan mewabahnya Covid-19, kondisi ekonomi keluarga mereka pun cukup sulit. Toh selama ini, pengobatan hanya mengandalkan BPJS Kesehatan.
Semakin nahasnya lagi, pengobatan Arsi kian terganjal gegara musibah banjir yang melanda sebagian besar wilayah di Desa Sungai Mentawa. Keluarga mereka pun harus rela ikut ngungsi karena terdampak banjir.
Kini kondisi kesehatan Arsi kian menurun. Karena selain mengidap hidrosefalus, Arsi juga mengidap gangguan pencernaan dari lubang anusnya. Ada saraf usus yang tidak berfungsi secara maksimal, dan mengakibatkan tidak bisa buang air besar (BAB). “Untuk sementara dilarikan kesamping untuk BAB nya, kata dokter di RSUD Lamandau nanti tunggu usia Arsi 6 bulan baru bisa diproses,” ungkap Susi.
Susi berharap ada uluran tangan dermawan untuk membatu biaya proses pengobatan anaknya. Kedua orangtuanya pun meminta kepada seluruh masyarakat untuk mendoakan Arsi supaya diberikan kesembuhan oleh Allah SWT. (K2)










