
Di Pasar tradisional Indrasari Kelurahan Baru, harga cabai rawit sebulan lalu berkisar antara Rp150 ribu per kilogram
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Sejak awal tahun 2021 atau sejak saat memasuki musim kemarau tahun ini, harga sejumlah komoditas khususnya harga cabai rawit di pasar tradisional di Kabupaten Kotawaringin Barat, alami kenaikan cukup tajam.
Kondisi berbeda terjadi untuk harga bawang merah dan bawang putih yang sempat mengalami penurunan, namun kini berangsur naik, Sabtu (13/3/2021).
Kenaikan harga cabai tersebut diduga akibat datangnya musim kemarau, sehingga produksi petani cabai mengalami penurunan karena banyak cabai yang rusak akibat terkena musim yang tidak menentu.
Selain itu, banyak petani yang mulai beralih ke tanaman lain, yang mengakibatkan produksi cabai atau pasokannya menurun.
Di Pasar tradisional Indrasari Kelurahan Baru, harga cabai rawit sebulan lalu berkisar antara Rp150 ribu per kilogram, sementara seminggu lalu harganya naik menjadi Rp170 ribu per kilogram, dan hingga Sabtu (13/3/2021) hari ini, harganya Rp150 ribu per kilogram.
Untuk cabai, sebulan lalu harganya berkisar antara Rp 100 ribu per kilogram, sementara sejak seminggu lalu naik per kilogramnya, dan bertahan hingga hari ini menjadi Rp 150 ribu.
Untuk harga bawang merah, sebulan lalu harganya sempat anjlok hingga Rp 20 ribu per kilogram, namun seminggu lalu mulai naik menjadi Rp 38 ribu per kilogram, dan hari ini, harganya mencapai Rp 38 ribu per kilogram.
Sementara untuk bawang putih, sejak sebulan lalu harganya relatif stabil pada kisaran Rp 15 ribu per kilogram, di mana hari ini harganya mencapai Rp 35 ribu per kilogram, kata Khusna salah satu pedagang di pasar Indra sari.
Khusna menuturkan kepada awak media ini bahwa kenaikan harga cabai tersebut terjadi sejak seminggu lalu dan hingga kini kenaikannya masih bertahan.
“Sudah seminggu harga tetap. Penyebabnya barangnya tidak ada, soalnya musim pergantian dari hujan ke kemarau ini barangnya banyak yang rusak, sehingga produksinya menurun,” kata Khusna.
Menurutnya, dengan adanya kenaikan harga tersebut berdampak pada penjualan dari masing-masing pedagang di pasar tradisional.
“Pembeli ya turun karena harganya mahal. Misal biasanya beli 10 kilo sekarang cuma beli 3 kilo atau bahkan 2 kilo, karena harganya mahal,” kata Khusna.
Seorang warga bernama Marto Prawiro (45), pengusaha mie ayam mengaku dirinya harus pandai-pandai mengatur uang belanjaan akibat kenaikan harga cabai tersebut, karena cabai merupakan bumbu utama di warung miliknya.
“Biasanya kalau bawa uang 400 ribu rupiah sudah dapat macam-macam bumbu, sekarang harus dibagi-bagi. Cabai biasanya saya beli 10 kiloan, sekarang cuma beli 3/2 kilo,” kata Wiro. (yusbob)







