
Pseudobufo Subasper/naturepl.com/Chien Lee
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Dua Mahasiswa dari Spanyol dan Swiss jurusan Biology False Swamp Toad dilaporkan akan bergabung dalam upaya untuk melestarikan katak raksasa Pseudobufo Subasper atau Kodok Lalak atau dalam bahasa lokalnya Bangkong Banyu.
Pseudobufo Subasper merupakan salah satu spesies katak akuatik terbesar di dunia yang hidup di rawa dan rawa subtropis atau tropis di temukan di Indonesia dan Malaysia, Selasa (16/3/2021)
Kodok ini hanya dapat ditemukan di rawa gambut seperti daerah sumatra dan kalimantan, kedatangan ilmuwan dari Spanyol dan Swiss ini adalah untuk memastikan masa depan hewan amfibi itu yang terancam punah, kata Diaz pecinta hewan reptil ini.
Hewan amfibi tersebut terancam oleh polusi dari pertambangan dan penggunaan dalam pengobatan tradisional. Dua mahasiswa ini nantinya akan mempelajari habitat katak raksasa di rawa-rawa, dan juga melakukan analisis genetik, untuk mengetahui cara terbaik yang dapat dilakukan untuk melindungi spesies tersebut, terang Diaz.
Sepanjang hidupnya, katak jenis itu tinggal di rawa-rawa yang membuatnya dijuluki “Pseudobufo Subasper” alias Kodok Lalak atau Bangkong Banyu bahasa lokalnya.
Sedikit informasi mengenai kodok itu nanti teman-teman dari mitologi dari Spanyol dan Swiss yang kebetulan teman kami mau melanjutkan penelitian tentang kodok langka tersebut, terang Diaz.
Penelitian nanti menurut Diaz dari sisi kehidupan katak ini dan jenis makanan utama apa saja dan juga melihat dari sisi alamiahnya seperti apa, kata Diaz.
Polusi dari pertanian dan plastik dianggap sebagai alasan dari kematian katak tersebut. Namun diketahui, katak-katak itu juga diburu karena dianggap secara keliru sebagai obat, yang mampu meningkatkan gairah seksual.
Tim ilmuwan harus bersatu untuk menyelamatkan katak terancam punah tersebut, dan juga melakukan analisis genetik untuk mengetahui cara terbaik melindungi spesies, pinta Diaz. (yusbob)







