
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Warga Desa Rangda Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat bersama 5 Poktan akhirnya memilih membangun sendiri jalan tembus yang menghubungkan Desa Rangda KM 24 tembus desa Raja Seberang hingga Kecamatan Kotawaringin Lama.
Tak kepalang tanggung, jalan yang dibangun memiliki panjang hingga saat ini baru 12 km dengan lebar jalan 15 meter. Bahkan di beberapa titik ada yang memiliki lebar jalan hingga lebih 15 meter, Selasa (27/4/2021).
“Pembangunan jalan yang sudah dilaksanakan selama ini, murni merupakan hasil swadaya masyarakat. Ada yang menyumbangkan tenaga dan dana khususnya lima Kelompok Tani (Poktan). Namun ada juga yang menyumbangkan penggunaan alat berat gratis, bahkan tanah yang digunakan untuk dibuat jalan juga merupakan sumbangan warga,” kata Kepala Desa Rangda Muhammad Umar.

Dia menyebutkan, pembangunan jalan sudah dimulai sejak lima bulan lalu, dan hingga kini masih berlangsung. Namun karena biaya yang dibutuhkan sangat besar, proses pembangunan tidak bisa berlangsung cepat. Selain itu, jalan yang dibangun juga baru berupa jalan perintis berupa jalan tanah saja, terang Umar.
Murni ini Swadaya masyarakat dan lima Poktan, hingga saat ini belum ada bantuan dari pemerintah daerah, artinya desa masih mandiri, dan berharap ada perhatian nya, terang Umar.
Namun dengan kondisi jalan yang masih berupa jalan tanah ini, kendaraan roda empat baru bisa masuk asal tidak hujan. Hal ini karena ada ruas jalan tanah dan kalau hujan berlumpur. Untuk itu, dia meminta agar pemerintah daerah, bisa melanjutkan upaya-upaya yang telah dirintis masyarakat.
Bahkan bila Pemkab belum memiliki anggaran memadai, Umar berharap, pemerintah bisa melakukan pengerasan agar kondisi jalan yang pembangunannya dirintis masyarakat tidak menjadi sia-sia. “Warga di sekitar ruas jalan ini sangat membutuhkan akses jalan agar aktivitas ekonomi masyarakat bisa berlangsung lebih lancar,” katanya.
Ia menambahkan bila ruas jalan tersebut telah dibuat permanen, maka manfaatnya akan benar-benar dirasakan masyarakat. “Selama ini, para pedagang kesulitan akses jalan untuk menjual apalagi para petani kesulitan menjual hasil panennya. Karena tidak ada akses jalan tembus, mereka harus menempuh jalan memutar. Padahal dengan akses jalan tembus ini apabila bisa terlaksana roda perekonomian masyarakat sini bisa berlangsung,” katanya.(Yusbob)









