
Bambang Purwanto, Anggota Komisi IV DPR RI
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Naiknya harga kedelai akhir-akhir ini sangat memberatkan para perajin tahu dan tempe. Kondisi ini disikapi sejumlah kalangan DPR RI yang meminta pemerintah fokus pada pembenahan pertanian kedelai lokal.
Anggota Komisi IV DPR RI Bambang Purwanto menilai, keteledoran dari sistem pengawasan dan kendali di Kementerian Pertanian (Kementan) menjadi faktor melonjaknya harga kedelai yang terus meroket dalam beberapa hari terakhir ini, Kamis (7/1/2021).
”Selama ini kedelai impor Amerika biasanya dijadikan bahan baku pembuatan tempe dan tahu, yang kini harganya mengalami lonjakan,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI Bambang Purwanto kepada Kotawaringin News.
Namun kini harganya melonjak menjadi Rp 9.200 per kilogram. Sementara harga kedelai lokal harganya Rp 9.500 per kilogram, namun jarang digunakan oleh industri tempe dan tahu.
Bambang Purwanto menerangkan, kenaikan harga kedelai ini sebenarnya sudah menjadi hal yang sering diingatkan kepada pemerintah. Sebab pemerintah saat ini dinilai lebih banyak mengimpor produk pangan ketimbang memberdayakan petani produksi petani dalam negeri.
”Bukan hanya kedelai, tapi komoditas lainnya seperti beras dan lainnya,” Ujar Bambang. Ia khawatir ketergantungan ini akan terus berlangsung jika pemerintah belum juga menjadikan pertanian pangan dalam negeri berdaulat di negeri sendiri.
“Keteledoran ini disebabkan sistem pengawasan serta kendali dari Kementan yang tidak berjalan dengan baik. Seharusnya dijaga agar mata rantai kegiatan sampai di hilir bisa berlanjut, karena kewenangan di hulu ini ada di Kementan,” kata Bambang Purwanto.
Kejadian ini, lanjut Bambang Purwanto, juga menjadi bentu ketidakcermatan dan keteledoran Kementan sebagai lembaga yang memproduksi pangan termasuk kebutuhan kedelai.
Dalam kondisi sekarang ini ungkap Bambang Purwanto, dirinya berharap Kementan segera membenahi industri pertanian kedelai lokal. Terutama bagaimana agar kualitas dan harga kedelai lokal bisa mendekati harga dan kualitas kedelai impor.
Lanjut Bambang, jika Indonesia bisa memproduksi kedelai sendiri tidak akan dipermainkan oleh asing. Harapannya industri tempe dan tahu bisa menggunakan kedelai lokal sebagai bahan baku mereka.
”Sudah terbukti kedelai lokal lebih sehat karena bukan barang yang diproduksi dari hasil rekayasa genetik atau GMO (Genetically Modified Organism) seperti kedelai impor,” sambung Bambang Purwanto.
Informasi yang diperolehnya, kedelai impor menjadi produk dengan kualitas dan harga yang rendah karena sudah di rekayasa secara genetik sehingga produksinya bisa cepat. Di mana GMO menjadi pangan yang kontroversial sejak awal penemuannya.
Akan tetapi lanjut Bambang, hal itu sudah menjadi hal yang dilupakan orang karena krisis ekonomi membuat orang lebih mempertimbangkan harga dari pada keamanan pangan.
Oleh karenanya ketika sekarang produk impor harganya tidak lagi murah maka Kementan seharusnya segera mengambil kesempatan untuk mendukung petani kedelai lokal.
”Agar petani lokal bisa memproduksi lebih banyak lagi dari sebelumnya,” imbuhnya. Hal ini bisa terwujud jika ada perhatian penuh dari pemerintah.
Tidak hanya itu, Bambang Purwanto juga menyoroti, kinerja Kementerian Perdagangan (Kemendag). Menurutnya,
di masa pandemi seperti saat ini tentunya semua negara seharusnya menjaga stok makanan masing-masing.
“Dengan demikian kita harus cermat membaca situasi dan kondisi saat wabah covid 19 ini agar tidak terlambat menjaga pasokan untuk kebutuhan pangan,” pungkas Bambang Purwanto. (yusbob)









