
Ilustrasi pohon cabai/Iwan Rahmansyah
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Cuaca ekstrem saat ini berdampak terhadap tanaman pertanian seperti cabai. Di Kotawaringin Barat, petani di Kelurahan Rt 5 Kecamatan Arut Utara mengalami gagal panen lantaran tanaman cabainya membusuk.
Salah seorang petani cabai, Maslubihisiak mengatakan, kondisi cuaca saat ini kurang bersahabat bagi petani terutama dirinya. Dia mengaku tanaman cabainya banyak yang membusuk akibat curah hujan dan serangan hama, Senin (18/1/2021).
“Jadi kemungkinan curah hujan yang sangat tinggi ini mempercepat terserangnya tanaman oleh hama,”ujarnya,
Menurutnya, jika melihat kondisi saat ini petani tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan tanamannya. Kendati sudah diantisipasi dengan membeli obat dan nutrisi tanaman, tetapi tidak membuahkan hasil
“Hampir 95% tananam membusuk dan tentunya tidak bisa di panen,”ungkapnya.
Di masa pandemi ini bagi dirinya cukup berdampak apalagi tidak bisa panen lantaran tanaman membusuk. Sejauh ini belum ada bantuan atau stimulus juga dari pemerintah bagi para petani.
“Ya kita sebenarnya tidak muluk-muluk lah. Kita tidak terlalu banyak berharap terhadap pemerintah karena sampai sekarang di tengah pandemi ini banyak bantuan ke sana ke mari, tetapi untuk petani sampai sekarang belum pernah ada bantuan,” tuturnya.
dia menambahkan, kalau secara itung-itungan, dari hasil tani saat ini tidak lagi bisa menutupi biaya tanam dab perawatan, padahal kami berharap ini bisa di panen, melihat harga cabai saat ini bisa di angka Rp 200 ribu per kilo.
“Untuk kerugian kalau dihitung-hitung nominalnya antara Rp 50 juta sampai Rp 60 jutaan,”
Iya mas sampai saya pasang status di FB:
Biasanya pangkut selalu berkontribusi dalam membantu ketahanan pangan di kotawaringin barat terutama cabai untuk kali ini walaupun hargamu sudah 200rbu/kg kami tidak berdaya kebun cabai 2,7 H sudah umur 20 hari mati total akibat curah hujan yg tinggi. Pungkasnya. (yusbob)







