
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Bangunan bersejarah menjadi saksi bisu bagaimana sebuah bangsa di masa lalu sehingga perlu dijaga kelestariannya.
Di Kotawaringin Barat, Sekolah Rakyat (SR) yang berdiri diperkirakan ratusan tahun bangunan bersejarah itu justru kini terbengkalai dan tinggal kenangan, Senin (24/5/2021).
Bangunan eks Sekolah Rakyat di Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, yang dibangun sebelum kemerdekaan akhir nya pada tanggal 23 mei 2021 sekitar jam 00.00 WIB tumbang/roboh dikarenakan dimakan usia.
Sedih memang bangunan yang sarat sejarah yang banyak melahir kan para pengusaha internasional seperti Iwan Sunito, maupun pejabat publik nasinonal macam Mukhtarudin dan Hamdadi sekarang hanya tinggal kenangan.
Bahkan, lokasi bersejarah itu direncanakan mau dibuat Musium pendidikan yang menjadi pusat perhatian beberapa warga Tionghoa kini tinggal rencana dan meninggalkan puing-puing bangunan kuno. Miris.
Tokoh pemuda sekitar Wardiman menyayangi kejadian ini, mungkin ini hanyalah sebuah cerita dan seperti dongeng, kelak hanyalah sebuah cerita kepada anak cucu bahwa di Raja Seberang pernah ada Sekolah Rakyat yang melahirkan tokoh nasional dan pengusaha internasional.
Sejatinya memiliki banyak bangunan bersejarah peninggalan. Tapi sayangnya, banyak yang tak terawat hingga roboh dengan sendirinya, kata Wardiman.
“Sayang banget. Padahal bila itu terjaga, akan sangat indah dengan bangunan-bangunan lamanya serta bisa jadi warisan bagi generasi saat ini,” ujarnya.
Wardiman menilai, seberangnya perlu itikat kuat dari pemda untuk melestarikan dan menjaga bangunan bersejarah karena memang membutuhkan dana yang tidak sefikit. Salah satu yang bisa dilakukan bila bangunan itu belum jadi cagar budaya adalah, segera membuat tim yang mengupayakannya jadi cagar budaya.
Tujuannya, bila bangunan itu milik pribadi atau perseorangan, sang pemilik tetap menjaga bangunannya, tapi kini hanyalah seperti dongeng dan tinggal kenangan, sedih Wardiman.
“Karena ada UU yang mengatur. Pemda juga tentunya wajib membantu, karena merawat bangunan tua tentu tak mudah dan tak murah. Selain itu pemda juga bisa melibatkan pihak swasta untuk pembiayaannya dengan CSR-nya. Ini juga bisa dilakukan untuk melakukan revitalisasi bangunan itu sendiri. Sehingga akhirnya bangunan bersejarah itu bisa terjaga dan dikenal orang,” papar Wardiman.









