
Meraih asa, Pasar Pangkalan Banteng.
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Beberapa hari belakangan dan hari-hari esok ke depan, orang-orang pinggiran yang sebagian kita jumpai dan mencari nafkah, hari ini dapat besok habis, ditengah situasi yang tidak menentu dalam menghadapi pandemi covid 19, orang pinggiran menjerit, masihkah akan tetap dan dapat terus bertahan bekerja keras di tengah badai wabah Corona, Selasa (8/12/2020).
Demi sesuap nasi buat keluarga tercinta? Tak mudah tampaknya untuk dijawab, sekarang sebuah tanya kadang beraroma retorik.
Di sisi lain, ada perkembangan berita puluhan ribu orang-orang pinggiran yang sebagian berprofesi sebagai pekerja informal, pekerja lepas dan mengandalkan penghasilan harian di Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng, sekitar sepekan terakhir sudah mulai kelimpungan akibat Pandemi Covid 19.
Boleh jadi mereka sementara memilih pasrah, karena melihat mulai sepinya orang berlalu lalang di jalan, pasar serta tempat-tempat umum akibat kebijakan pemerintah demi memutus mata rantai penyebaran covid 19 ini, sebagai dampak pencegahan virus Corona-19.
Dengan ungkapan lain, kenyataan yang dihadapi para orang pinggiran yang sementara masih tidak menentu tersebut, sangat boleh jadi memiliki dasar argumentasi yang jelas dan selayaknya kita maklumi.
Terkait hal ini, ada jurnalis Kotawaringin Barat mencoba menelusuri orang pinggiran dan sudah pada tempatnya serta tiba waktunya para orang pinggiran memutar otak dan bekerja lebih keras lagi agar bisa menghasilkan uang dari usahanya.
Di sisi lain, orang pinggiran, atau para warga masyarakat rentan dan orang pinggiran sudah terbiasa bekerja di bawah terik mentari, di jalan-jalan becek, di tengah desing mesin pabrik serta tetap bergembira menyanyi dan menari mengusir kejenuhan atau kepenatan kerja seharian.
Tapi hari-hari belakangan ini dan hari-hari esok mendatang entah sampai kapan, orang-orang pinggiran yang saudara-saudara kita juga laksana sedang berhadapan dengan sebuah tembok ketidakpastian.
Atau bahkan ibarat sudah jatuh masih tertimpa tangga pula, dapur mulai susah mengepul karena lembaran rupiah menipis di dompet.
Sebagai pedagang kaki lima, pekerja di pabrik-pabrik atau pekerja lepas harian di sejumlah sektor ekonomi lainnya, teman-teman kita orang pinggiran acapkali merasa sepi sendirian. Dengan sebatang rokok dan segelas kopi, barangkali mereka rebahan sepulang kerja seharian sambil meraih sekeping mimpi.
Atau mereka sesekali keluar rumah, menatap keluasan langit tapi tetap saja langit tak peduli. Toh, para pekerja keras ini terus meyakini mentari esok pasti akan kembali di ufuk Timur serta optimis semoga mendapat rejeki halal dan baik.
Seringkali kami mampu menangkap dan mengungkapkan problema sosial lapisan masyarakat terbawah sangat menyentuh ini meneriakkan, betapa para saudara kita orang pinggiran bukanlah golongan pemalas.
Orang-orang pinggiran juga terbukti sebagai kaum pekerja keras yang terus mendorong agar perekonomian bangsa terus berputar menggelinding. Bahkan bukan hanya itu. Teman-teman kita tersebut juga tidak suka mengeluh. Kawan-kawan kita orang pinggiran paling banter terlihat melenguh, menarik napas panjang dan sekadar meregangkan kedua lengan dan kakinya buat merilekskan staminanya kembali.
Kembali pada kenyataan yang beberapa pekan lalu kita sudah dan masih akan menghadapi wabah Corona, yang jelas warga masyarakat bawah atau orang pinggiran juga sudah mulai merasakan dampak sosial-ekonomi dan psikologis. Di sisi lain pergerakan angka ODP, PDP, Positif, meninggal maupun kesembuhan Corona, juga masih mengalami kenaikan signifikan dan belum pasti kapan titik kulminasi serta kapan grafik tersebut. (yusbob)







