
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Jarum pendek menunjuk angka tujuh pada pagi hari, waktu Munakip (60) mulai beranjak menuju lapak di Jalan Prakusuma Yuda Kelurahan Raja, Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat.
Di jalan itulah Munakip warga jalan Malijo Rt 09 Kelurahan Madurejo, Arut Selatan, mengais nafkah sepanjang hari untuk kehidupan keluarga.
Pagi itu, di belakang Pasar Indra Kencana terdapat sebuah warung. Orang sibuk keluar masuk untuk mengisi perut pada sebuah warung makan. Munakip malah sibuk menyelesaikan tugas pokoknya sebagi penjahit.
Tumpukan sepatu di hadapan Munakip masih memperlihatkan kerja keras yang belum membuahkan hasil. Tangan terampilnya pun terlihat sedikit bergetar ketika memasukan benang-benang sol ke sepatu hitam pekat yang sedari tadi dia genggam.
“Ya, saya tidak pandang kerja seperti apa. Tapi saya mau menjadikan ini menjadi arti dalam hidup saya,” katanya berpesan saat dibincangi wartawan, Selasa (25/1/2022), pagi.
Pria paruh baya ini sudah 17 tahun sebagai tukang sol sepatu setelah sebelumnya bekerja di proyek. Karena kondisinya semakin tua ia beralih menjadi tukang jahit sepatu.
Munakip memiliki tiga orang anak, ia dan istrinya dikaruniai empat cucu. Tiga anaknya sudah berkeluarga dan mereka sibuk bekerja masing-masing.
Semangatnya untuk mengais fulus terus menggebu. Sebab, kebutuhan ekonomi keluarga menumpuk di pundaknya.
“Saya tidak pusing ada pesan atau tidak. Intinya saya tetap menanti disini,” katanya singkat sambil menusuk jarum ke sepatu diatas kain kusam itu.
Baju Kaos abu-abu dipadu celana training kehitaman yang dipakai Munakip menjadi andalan setiap hari.
Dibawah gubuk kecil, semua jenis sepatu ia perbaiki. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Dari para tengkulak hingga pejabat berjas hitam.
“Semua pesanan dititip ke saya. Anak-anak 10 ribu. Sampai dewasa 15 ribu. Ada pejabat juga bawa ke saya. Ya, harganya sama,”pungkas Munakip mengisah.
Munakip tidak memisah-misahkan harga untuk pelanggan sekalipun pejabat. Ia mengaku pernah mengembalikan uang pejabat saat membayarnya lebih dari patokan harga olehnya.
Menurut dia, selain isi dompetnya yang digapai ada hikmat yang menjadi cita-citanya. Hikmat yang diperoleh Munakip adalah membuat kehidupan menjadi berarti.
“Orang tidak melihat hal yang negatif yang saya kerja. Saya mendapatkan hikmah atau hal yang positif dalam pekerjaan ini,” tutur Munakip. (Yusbob)







