
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Cerita Bimas Damara 19 Tahun jadi tulang punggung membantu keluarga demi harapan untuk sang ibu dan cita-citanya membahagiakan keluarga, Rabu (23/6/2021)
Selama tiga bulan terakhir, Bimas Damara kerja jadi tukang parkir di area Bundaran Pancasila Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, siswa kelas 11 di SMKN 3 Kumai ini harus rela sehari-hari menjadi Juru parkir demi biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari.
Bimas Damara saat menjaga parkir tidak pernah meminta, “Kalau di kasih saya terima sesuai tarif parkir, kalau tidak di kasihpun ya tidak apa-apa”, ucap Bimas.
“Namun apabila ada orang yang memarkir cuma sebentar, saya pun tidak pernah memintanya,” sebut Bimas.
Bimas pernah putus sekolah saat masih duduk di bangku sekolah dasar, hal ini membuat dirinya termotivasi agar sekolah nya jangan sampai putus lagi.
Gawai dan kuota menjadi masalah utama dalam proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Anak-anak kesulitan belajar daring karena keterbatasan sarana.
Termasuk yang dialami Bimas yang rela bekerja sebagai tukang parkir demi membeli Handphone dan kuota internet agar bisa sekolah.
Inisiatif itu tumbuh dari dirinya karena melihat keterbatasan penghasilan dari ibunya yang bekerja sebagai buruh serabutan di kebun.
Keterbatasan biaya ini menyebabkan Bimas harus rela menjadi jukir, demi cita-cita nya menunaikan sang ibu naik haji, dan demi masa depannya.
Terlebih kondisi Pandemi saat ini, membuat ibu nya tambah kesulitan membelikan HP dan kuota internet untuk sarana belajar dan ujian online. Jangankan beli HP, untuk kebutuhan makan sehari-hari pun cukup sulit.
Naluri sebagai anak laki-laki muncul, Bimas bertekad untuk membantu meringankan beban sang ibu, meskipun harus menjadi tukang parkir. Dalam sehari ia bisa mendapat 80.000 hingga 100.000. lalu uang tersebut ia tabung. Hingga saat ini uang yang terkumpul baru 1.500.000.
Kemudian uang tersebut ia rencanakan untuk membeli seragam sekolah, saat ini seragam nya sudah kurang layak, ucap Bimas Damara saat dibincangi di area parkir tempat ia bekerja.
Bimas hanyalah satu dari jutaan anak Indonesia yang kesulitan biaya untuk sekolah, saat ini dirinya bertekad demi satu impian menjadi anak yang berbakti demi satu impian. (Yusbob)









