
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Naiknya harga liquefied petroleum gas (LPG) non subsidi di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, membuat sejumlah masyarakat beralih menggunakan elpiji melon ukuran 3 kilogram.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Amir (40), Warga Kelurahan Sidorejo Kecamatan Arut Selatan. Dia yang memiliki usaha kuliner terpaksa harus memutar otak guna menutupi harga gas elpiji non subsidi yang naik.
Semula Amir berjualan menggunakan tabung bright gas ukuran 12 kilogram, tetapi sejak harga isi ulang naik ia beralih menggunakan tabung gas 3 kilogram.
“Terpaksa pakai tabung gas 3 kilogram, karena yang non subsidi naik tidak sesuai dengan pengeluaran,” ujar dia kepada media ini, Kamis (7/4/2022).
Dalam mengais rezeki kata Amir, memang dirinya tak pernah lepas dalam penggunaan gas elpiji. Bahkan untuk menekan pengeluaran modal untuk berdagang dia harus menggunakan tabung 3 kilogram yang bersubsidi.
Hal itu untuk mengurangi biaya pengeluaran untuk membeli isi ulang tabung gas, yang mana gas melon di agen dijual sekitar Rp18/20 ribu per tabung.
Kalau di Pangkalan saya cuma dapat jatah satu tabung saja, otomatis saya juga beli di toko-toko yang jual gas melon, walau harganya dua kali lipat dari Pangkalan, kata Amir.
Ada kemungkinan dengan naiknya harga gas melon di pasaran, membuat masyarakat yang beralih ke gas melon, ucap dia.
Harganya sekarang tembus Rp 45 ribu, padahal awal saya beli harga masih Rp 33/35 ribu, sekarang malah naik, pusing saya mas, keluhnya.
“Saya jualan sosis dan segala macam, kompor kan harus tetap menyala. Ya, dengan ganti ini setidaknya bisa mengurangi modal. Walaupun kadang enggak beli di agen harganya Rp45 ribu per tabung,”terang Amir.
Dia menilai, kebijakan menaikkan harga gas elpiji non subsidi saat ini sangat tidak mendukung para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di bidang kuliner, untuk dapat bangkit kembali.
Padahal hampir satu tahun lebih dilanda Pandemi Covid-19 dirinya tak bisa berjualan karena adanya pembatasan kegiatan di kampung-kampung.
Belum lagi mengingat bahwa kenaikan harga beberapa waktu lalu juga dialami oleh beberapa komoditas lain seperti minyak goreng. Alasan itu lah yang membuatnya semakin menjerit.
“Belum lagi kemarin harga minyak goreng yang naik, gas juga naik untung kita semakin tipis. Belum lagi beli gas subsidi harus antre dan itupun dapat cuma satu tabung, kalau di agen kadang enggak kebagian,” ujarnya.
Oleh karenanya kini dirinya juga tengah memikirkan penyesuaian harga jual kuliner yang dikelolanya, yang mau tidak mau mesti diubah harga jualnya.
“Enggak pas lah sebenarnya harga gas non subsidi tiba-tiba naik seperti ini. Kalau bisa naik jangan terlalu tinggi lah, kita juga sudah susah harga apa-apa naik,”ucapnya.
Hal berbeda justru dikatakan Irma (28). Sejak harga gas elpiji non subsidi naik dia lebih memang tidak memilih untuk beralih menggunakan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram.
Walaupun harganya lebih murah karena bersubsidi, ia berpikir masih banyak masyarakat kurang mampu yang membutuhkan gas melon tersebut.
“Walaupun naik enggak papa lah, karena masyarakat lain masih banyak yang butuh gas subsidi,” kata Irma. (Yus)







