
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Hendra Heriadi penulis naskah Film pendek ‘ Bingal ‘ Polres Kotawaringin Barat yang baru-baru ini dinobatkan menjadi yang terbaik nomor dua tingkat Nasional dalam Hut Bhayangkara ke 75.
Film pendek diikutkan lomba Hut Bhayangkara ke-75 tingkat nasional itu adalah film yang naskahnya ditulis sendiri. Bahkan dia terlibat dalam proses editing-nya sekaligus, Kamis (1/7/2021).
Film karyanya itu diberi judul ‘Bingal’. Film ini melibatkan Hadi sebagai pemeran utama yang menjadi warga Kumai yang abaikan Protokol Covid-19.
Dia menceritakan, film ini mulai digarap kurang lebih satu Minggu. Prosesnya, dia membutuhkan waktu cukup singkat. Mulai dari memilih pemeran hingga memilih lokasi pengambilan gambar.
Hendra mengaku, tak mudah membuat daerah di Kumai bisa apik di hadapan kamera. Selain itu, dia pun mati-matian terus memberikan pemahaman tentang pentingnya menjiwai karakter tokoh.
Film berdurasi 7 menit ini, mengisahkan tentang seorang warga Kumai yang hidup sebagai Nelayan, Tokoh nya Hadi yang biasa bermain ngelawak kini dirubah karakternya menjadi lebih serius, kata Hendra Heriadi.
Dalam kondisi itu, Hadi tetap berusaha untuk mendapatkan kesempatan belajar. Meski dia harus bisa berakting lebih dalam lagi, khususnya dalam penjiwaannya.
Namun, perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil manis saat bakat di bidang aktingnya diapresiasi dan berhasil juara dua tingkat nasional Hut Bhayangkara ke-75.
Menurut Hendra, dalam film ini bukan hanya tentang difabel saja. Melainkan, ada tempat-tempat di Kotawaringin Barat ingin ditunjukkan ke publik. Misalkan, adanya pelabuhan Panglima Utar Kumai.
“Kami ingin menyampaikan tentang desa kami ke semua orang,” ujar dia.
Dikatakan Hendra, ada pesan ingin disampaikan saat dirinya menulis naskah film tersebut. Mengangkat kisah seorang bapak yang abaikan prokes dan berdampak pada sang anak membuat anaknya terpapar virus Covid-19 dan meninggal dunia.
“Kami ingin sampaikan, masyarakat kita yang difabel itu banyak yang belum
sepenuhnya mematuhi Protokol kesehatan Covid-19 khususnya di Pelabuhan,” terangnya.
Dia melanjutkan, adanya film ini ingin mendorong agar masyarakat tak mengesampingkan Protokol kesehatan. Sebab, perlu ada nilai-nilai ditanamkan ke masyarakat agar memahami betul pentingnya Prokes.
Sementara itu, banyak pelajaran didapat dari pembuatan film. Bagi Hendra, memproduksi film tak semudah membalikkan tangan. Sebab, ada proses panjang harus dilalui. Misalnya, untuk pengambilan gambar hingga proses editing.
“Saya banyak belajar otodidak untuk proses editing-nya,” tandasnya. (Yusbob)









