
Ilustrasi sekolah tatap muka/Istimewa
Kotawaringin News, Kotawaringin Barat – Pemerintah Daerah Kotawaringin Barat (Kobar), melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kobar berencana kembali menggelar belajar tatap muka di sekolah paling cepat pada Februari 2021.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kotawaringin Barat, Kartono. Rencana itu bakal dilaksanakan setelah akan menggelar rapat dengan Bupati Kotawaringin Barat, Sabtu (30/1/2021).

Lanjut Kartono, itupun masih baru mau kita rapatkan dulu hari Senin depan dengan Bupati, kalau misalkan memang dalam rapat disepakati bisa dan diijinkan untuk Pertemuan Tatap Muka (PTM) berarti lanjut kita buka kalau tidak disepakati berarti kita belum berani membuka, ucapnya via WhatsApp, Sabtu (30/1), siang.
Dalam rapat nanti Kita akan mengevaluasi belajar tatap muka yang akan kita sampaikan, Iya kalau memang disetujui dan disepakati berati tanggal 2 Februari 2021 masuk untuk PTM dan itupun masih belum serempak semua, kita bertahap saja, ucap Kartono.
“Kita masih menggunakan pembelajaran jarak jauh, tapi paling cepat pembelajaran tatap muka dilakukan pada Februari awal, tapi kita lihat hasil evaluasi tatap muka yang yang akan dibahas nanti,” kata Kartono.
Kardianto mengatakan, ada beberapa perguruan yang sudah menggelar belajar tatap muka, salah satunya adalah Pondok Pesantren.
“Kalau tidak (ada tambahan kasus Covid-19), bisa dilanjutkan ke seluruh sekolah yang emang sudah siap dan diawali dari SMP/MTs ,Paket B,SD/MI,Paket A”, terang Kartono.
Nantinya, belajar di sekolah hanya untuk murid yang mendapat izin dari orangtuanya.
Siswa yang tidak diperbolehkan belajar di sekolah oleh orangtuanya, akan tetap belajar secara daring.
“Kalau orangtua khawatir dan minta belajar di rumah diperbolehkan. Tatap muka tidak menghilangkan pembelajaran daring,” kata dia.
Kartono juga menyatakan, tidak semua sekolah boleh menyelenggarakan belajar tatap muka saat virus corona masih merebak.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kobar bakal memverifikasi terlebih dahulu penerapan protokol kesehatannya.
“Kita lakukan verifikasi dulu, setelah itu kita pilih untuk percontohan atau simulasi, selama simulasi kita libatkan gugus tugas, dan juga Dinas Kesehatan,” ujarnya. (yusbob)







