
Foto bersama seusai sosialisasi karhutla di Aula SMKN 1 Kuala Pembuang, Selasa (8/9/2026). (Ist/Yasir)
Kotawaringin News, Seruyan — Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Seruyan mulai diarahkan tidak hanya pada kesiapsiagaan pemerintah dan aparat, tetapi juga pada keterlibatan generasi muda.
Wakil Bupati Seruyan Supian mengajak para pelajar SMKN 1 Kuala Pembuang menjadi bagian dari gerakan menjaga lingkungan dan mencegah karhutla sejak dini. Pesan itu disampaikannya saat menghadiri sosialisasi karhutla di Aula SMKN 1 Kuala Pembuang, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Camat Seruyan Hilir.
Di hadapan para siswa, Supian menegaskan bahwa pelajar memiliki posisi penting dalam membangun kesadaran lingkungan, baik di sekolah, keluarga maupun masyarakat.
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya diwujudkan melalui pengetahuan. Hal tersebut harus diterapkan dalam tindakan nyata, termasuk menjaga kawasan tetap hijau dan menanam serta merawat pohon.
“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah. Anak-anak kita juga bisa mengambil peran, salah satunya dengan menanam pohon dan menjaga lingkungan tetap hijau,” kata Supian.
Ia menilai lingkungan sekolah merupakan ruang strategis untuk membentuk kebiasaan dan karakter peduli lingkungan. Karena itu, sosialisasi mengenai karhutla diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Supian mengingatkan, karhutla bukan hanya persoalan munculnya api di kawasan hutan atau lahan. Dampaknya dapat meluas menjadi kabut asap, kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan hingga terganggunya aktivitas masyarakat.
“Kalau kita mencintai alam, kita harus menjaganya. Jangan sampai lingkungan yang kita wariskan kepada anak cucu justru dalam kondisi rusak,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Seruyan berharap para siswa dapat menjadi penyampai pesan pencegahan karhutla di tengah masyarakat. Kesadaran yang dibangun sejak bangku sekolah dinilai penting untuk memperkuat upaya pencegahan sebelum kebakaran terjadi.
Sebab, penanganan karhutla tidak semestinya hanya dilakukan ketika api sudah berkobar. Pencegahan melalui perubahan perilaku dan kepedulian bersama menjadi langkah yang jauh lebih penting. (Ys/K2)





