Menu

PT IMP belum Menyelesaikan Pembebasan Lahan dengan Masyarakat

Tim

Kotawaringin News, Seruyan – PT Indomineralita Prima (IMP), perusahaan tambang yang beroperasi di Rantau Pulut, Kabupaten Seruyan, masih menyisakan sejumlah masalah. Selain Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) yang diduga abal-abal, perusahaan tersebut juga masih bermasalah dengan warga sekitar.
“Dulu, sebelum beroperasi kami sudah menyampaikan beberapa tuntutan, tapi masih ada tuntutan kami yang belum dipenuhi,” kata salah seorang warga di Rantau Pulut baru-baru ini.
Sejumlah tuntutan yang disampaikan diantaranya adalah soal ganti rugi pembebasan lahan, masalah pengelolaan limbah, harus melakukan ritual adat setempat, jaminan bagi para pekerja atau karyawan, harus melaksanakan program pemberdayaan untuk masyarakat setempat, merombak kepengurusan perusahaan di lapangan, hingga menginginkan direktur PT IMP datang langsung ke Rantau Pulut menemui warga. Jika tuntutan warga tersebut belum disepakati, warga meminta PT tidak beroperasi, baik di kantor yang ada di Rantau Pulut maupun di lapangan atau lokasi tambang.
“Yang jelas poin pertama ini belum beres, belum dipenuhi oleh pihak perusahaan,” ungkap warga Rantau Pulut lainnya, yang berinisial S. Warga mengancam akan melakukan demonstrasi jika tuntutan-tuntutan mereka tidak segera dipenuhi.
Terpisah, penanggungjawab lapangan PT IMP Jatmiko mengatakan, penyelesaian persoalan lahan dengan warga masih berproses. Dia tidak membantah bahwa hingga saat ini belum kelar. “Soal lahan sedang proses,” ujar Jatmiko melalui pesan whatsapp, belum lama tadi.
Sekedar untuk diketahui, bahwa areal tambang PT IMP seluas sekitar 190 hektare. Kawasan itu merupakan hutan perbukitan. Beberapa diantaranya ditengarai telah dimiliki warga setempat. Lokasi di sekitar perbatasan antara Kabupaten Seruyan dengan Kabupaten Kotawaringin Barat. Bahkan, sejumlah warga di Desa Dau, Kecamatan Arut Utara menyebut bahwa awalnya wilayah tersebut masuk Kotawaringin Barat.
“Saya juga menyayangkan kenapa sekarang masuk Seruyan. Padahal sebenarnya itu masuk Kobar, karena dulu tapal batasnya di Batang Toras,” ungkap Aben, tokoh masyarakat setempat. (gza)

No comments

Tinggalkan Balasan

Ikuti Kami Di Facebook